Saturday, March 15, 2008

Jujurlah dan Allah Mencintaimu

Di luar gedung hujan turun dengan deras. Masih dengan setia mengunjungi setiap stand di pameran buku-buku Islam di Wanitatama. Saat itu saya sedang mencari sebuah buku yang diterbitkan oleh Pustaka Ibnu Katsir. Akhirnya sampailah ke stand penerbit tersebut. Sedikit kecewa karena tidak menemukan buku yang saya cari. Kata penjaga stand, buku itu memang belum diterbitkan.

Karena memang tujuan utama hanya mencari buku itu, saya langsung menuju pintu keluar untuk pulang. Hujan masih sangat deras, akhirnya iseng-iseng mampir ke stand dekat pintu keluar. Seperti biasa, tidak sengaja saya menemukan sesuatu yang terkait dengan tema blog ini. Sebuah buku yang judulnya adalah "Jujurlah dan Allah Mencintaimu".

Sekilas saya baca, dan saya menemukan 3 pendapat yang menarik tentang kejujuran. Bukan bermaksud membandingkan kebesaran dari ketiga orang tersebut, jika pendapat mereka saya tulis di blog ini.

Pendapat pertama dari Aristoteles. Dari orang ini, buku tersebut ingin menunjukkan bahwa kejujuran itu memang fitrah manusia, dan bersifat universal, yang seharusnya melekat ke setiap dada manusia.

Pendapat kedua dari Khalifah Islam, Umar bin Khaththab ra. Sahabat Nabi Muhammad SAW yang terkenal tegas dan keras. Dan pendapat terakhir dari Nabi Muhammad SAW, nabi akhir jaman, yang salah satu ajarannya adalah kejujuran. Dari Nabi Muhammad SAW hanya akan diambil salah satu hadits saja.

Di bawah ini adalah pendapat tersebut:
Aristoteles:
"Sebaik-baik perkataan adalah yang jujur pengucapannya dan bermanfaat bagi pendengarnya."
"Mati demi kejujuran lebih baik dari hidup dengan kebohongan."

Umar bin Khaththab:
Sungguh, sekiranya kejujuran itu merendahkanku, padahal ia jarang merendahkanku, maka itu lebih kusukai daripada derajatku terangkat lantaran kebohongan, dan hal itu jarang terjadi.

Nabi Muhammad SAW:
Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud ra, dari Nabi SAW, beliau bersabda: Sesungguhnya kejujuran itu membimbing kepada kebajikan, dan kebajikan itu membimbing ke surga. Seseorang senantiasa berkata jujur hingga ditetapkan di sisi Allah sebagai shiddiq (orang yang sangat jujur). Dan sesungguhnya dusta itu menuntun kepada kenistaan, dan kenistaan itu menuntun ke neraka. Seseorang senantiasa berdusta hingga ia ditetapkan di sisi Allah sebagai pendusta.

Selengkapnya...

Monday, March 10, 2008

Golongan yang berdusta

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ - صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّآلِّينَ

Ayat tersebut adalah 2 ayat terakhir dari surat Al-Fatihah, yaitu Surat dari Al-Qur'an yang setiap hari dibaca minimal 17 kali. Kedua ayat berisi do'a kepada Allah SWT. Menurut terjemahan dari Depag RI, arti dari ayat tersebut adalah sebagai berikut:
"Tunjukilah kami ke jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya, bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat".

Doa yang setiap hari kita ucapkan 17 kali itu, berisi agar kita ditunjukkan ke jalan yang lurus. Dan jalan yang lurus itu bukan jalan orang yang dimurkai dan bukan pula jalan yang sesat. Insya Allah, kita semua paham dengan arti dari ayat-ayat tersebut. Tetapi sudahkah kita mencoba untuk berusaha mewujudkan do'a kita? Atau justeru apa yang akan kita lakukan bertentangan dengan isi do'a itu?

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan terlebih dahulu makna dari "jalan orang yang diberi nikmat". Orang-orang yang diberi nikmat disebutkan dalam An-Nisaa:69:
Dan barang siapa mentaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pecinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.
Jadi, orang-orang yang diberi nikmat adalah orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasulullah. Seseorang disebut taat jika menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan.

Selanjutnya, masih dalam tafsir tersebut, bahwa jalan yang lurus itu bukan jalan dari orang-orang yang dimurkai oleh Allah dan bukan jalan dari orang-orang yang sesat. Ada 2 istilah berbeda yang muncul di sini, yaitu orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat. Kedua istilah ini menunjukkan 2 kelompok orang yang berbeda. Yang termasuk ke dalam orang-orang yang dimurkai oleh Allah adalah orang Yahudi, sedangkan yang termasuk ke dalam orang yang sesat adalah orang Nashrani. Petikan dari Al-Maidah:60 menunjukkan golongan yang dimurkai Allah:
... Yaitu, orang yang dilaknat dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi...
Petikan tersebut merujuk ke golongan Yahudi, dimana sebagian dari mereka dijadikan kera dan babi karena melanggar hari Sabat. Sedangan petikan dari Al-Maidah:77 menunjukkan golongan yang sesat:
... Dan janganlah kamu mengikuti keinginan orang-orang yang telah tersesat dahulu dan (telah) menyesatkan banyak (manusia), dan mereka sendiri tersesat dari jalan yang lurus.
Petikan ayat tersebut merujuk ke golongan Nasharani. Beberapa hadits juga menunjukkan hal yang sama.

Ada sifat mendasar pada golongan Yahudi yang menyebabkan golongan ini dimurkai Allah. Bahwa Yahudi diberi ilmu tentang hukum Allah tetapi tidak diamalkan, bahkan cenderung membangkang terhadap ilmu tersebut. Salah satu kisah tentang pembangkangan ini adalah hadits yang menceritakan tentang orang-orang Yahudi yang menghukum orang yang berzina dengan tidak menggunakan hukum rajam. Saat ditanya Rasulullah, orang-orang tersebut berkata bahwa hukum rajam tidak ada dalam Taurat. Tetapi selanjutnya Rasulullah bisa menunjukkan bahwa hukum rajam itu benar-benar ada dalam Taurat, tetapi mereka tidak mau mempraktekkan. Banyak juga ayat-ayat Al-Qur'an yang menceritakan pembangkangan golongan Yahudi ini.

Sedangkan sifat mendasar pada golongan Nashrani, sehingga mereka tersesat, adalah mereka tidak mempunyai ilmu (hukum Allah) dan mencari ilmu ke sumber yang salah. Sehingga golongan ini melakukan amal tanpa berdasar ilmu.

Dengan kata lain, golongan yang dimurkai adalah golongan yang mengetahui hukum Allah tetapi tidak mengamalkan. Sedangkan golongan yang sesat adalah golongan yang mengamalkan sesuatu tanpa mengetahui hukumnya. Keduanya sama, akan menghasilkan kedustaan dalam beragama. Golongan pertama berdusta bahwa hukum yang seharusnya mereka amalkan tidak ada sehingga tidak perlu diamalkan. Sedangkan golongan kedua berdusta bahwa amalan yang mereka lakukan adalah sesuai dengan hukum Allah, padahal mereka tidak mengetahui secara pasti.

Bagaimana dengan kita, umat Islam? Bagaimana kalau kita mengetahui hukum Allah tetapi tidak mengamalkannya? Apakah kita termasuk golongan yang dimurkai Alah? Bagaimana pula bila kita membuat amalan tanpa mengetahui hukumnya? Apakah kita juga digolongkan sebagai golongan yang sesat?

Wallahu a'lam bishshowab.


Selengkapnya...

Thursday, March 6, 2008

Warung Jujur

Waktu saya kuliah S1 dulu, juga pernah menemui warung jujur seperti yang ditulis di erasmuslim ini. Waktu itu saya tinggal di asrama kampus nan murah. Warung jujur yang di asrama ini dikelola oleh salah seorang karyawan asrama.

Namun kisahnya sedikit berbeda. Kalau di Eramuslim, warung jujur itu terbilang berhasil. Setiap pembeli selalu membayar meskipun tidak ada yang menjaga barang dagangan. Dan menurut penulis, masih di tulisan tersebut, hal itu menunjukkan bahwa lingkungan kampus tempat warung jujur itu adalah lingkungan yang memang bisa dipercaya. Mungkin disebabkan budaya saling percaya sudah cukup kuat di kampus tersebut.

Lain halnya dengan di asrama saya. Beberapa bulan bisnis itu berjalan lancar. Namun, setelah itu, bisnis ini pun tutup. Hal ini disebabkan uang yang diterima tidak sebanding dengan barang dagangan yang laku. Akhirnya bisnis inipun tidak bisa bertahan.

Menurut pengamatan saya, sebenarnya masalah yang muncul bukan karena banyak pembeli yang tidak jujur, alias curang. Tetapi lebih disebabkan oleh ketidakdisiplinan pembeli, yang sebenarnya juga penghuni asrama sendiri. Awalnya mungkin hanya sekedar menunda pembayaran, dengan alasan bahwa pembeli-pembeli tersebut tidak akan kemana-mana. Namun, karena sering menunda, pada akhirnya akan membuat pembeli tersebut lupa dengan jumlah dagangan yang sudah mereka ambil. Akibatnya mereka juga akan lupa dengan nilai uang yang harus mereka bayarkan sehingga hanya mengira-ngira.

Dalam skala yang lebih kecil, warung jujur ini juga ada di Masjid Shalahudin. Ada kios majalah yang menggunakan model warung jujur. Majalah-majalah yang dijual di situ adalah majalah baru tetapi lama, masih baru tetapi edisi lama. Pembeli tinggal mengambil majalah, lalu menaruh uang Rp. 4000 di kotak yang disediakan. Laris juga, meskipun harganya lebih tinggi dibandingkan kalau kita beli di kantor pemasarannya.

Intinya, memang di bisnis ini dibutuhkan tingkat kepercayaan yang tinggi, terutama buat pembeli. Pertama, bahwa pembeli akan jujur, tidak curang. Yang pertama ini sudah jelas. Setiap pembeli harus jujur, tidak bisa ditawar lagi. Kedua, pembeli harus disiplin. Kasus di asrama saya tadi bisa dijadikan contoh. Memang awalnya setiap pembeli tidak bermaksud untuk tidak jujur. Tetapi karena lupa, yang terjadi memberikan efek yang sama, yaitu bisnis itu akan runtuh.

Kasus kedua itu perlu kita waspadai. Awalnya tidak terlihat, tetapi akhirnya sangat berbahaya. Sebagian kasus korupsi terjadi dengan model seperti itu. Awalnya, hanya meminjam uang tanpa sepengetahuan atasan, dan nanti akan dikembalikan. Lama-lama menumpuk dan lupa. Tahu-tahu uang yang harus dikembalikan sangat besar. Akibatnya, tidak bisa bayar. Jadilah ia sebagai terdakwa koruptor.

Semoga bermanfaat...

Selengkapnya...

Tuesday, March 4, 2008

Kejujuran adalah Cermin Kesederhanaan Islam.

Apa yang akan saya tulis di sini adalah hasil kesimpulan saya dari materi kutbah Jum'at di Masjid BRI, tanggal 29 Februari 2008. Kalau ada kesimpulan yang salah, mohon buat pembaca yang sama-sama mengikuti kutbah tersebut berpartisipasi untuk mengoreksi.

Islam mengajarkan umatnya untuk selalu mengedepankan kejujuran. Kejujuran di sini dapat diartikan sebagai apa adanya, tidak neko-neko (tidak macam-macam), dan tidak berbelit-belit. Akan kita lihat bahwa ajaran ini menunjukkan kesederhanaan ajaran Islam.

Islam adalah agama yang mudah. Apapun ajaran yang diberikan Islam, semuanya dapat dilakukan dengan mudah. Setiap orang pasti dapat melakukan perintah maupun menghindari larangan. Jikalau pun ada halangan, Islam akan memberikan keringanan. Kalau ada yang merasa berat, bukan didasarkan pada ketidakmampuan fisik tetapi lebih dikarenakan oleh jiwa manusia itu. Artinya, bahwa tidak menjalankan perintah atau menjauhi larangan itu bukan karena tidak mungkin tetapi karena tidak ingin. Bukan tidak mampu, tetapi tidak mau.

Intinya, bahwa tidak ada yang tidak mungkin dalam setiap ajaran Islam. Semuanya pasti dapat dilakukan. Ini dikarenakan karena ajaran Islam memang dari Sang Maha Pencipta, sehingga mengetahui batas-batas kemampuan manusia sebagai makhluk-Nya. Dengan kata lain, karena ajaran yang diberikan Islam itu mudah, dapat dilakukan siapa saja, maka bisa dikatakan bahwa semua ajaran Islam adalah sederhana.

Istilah sederhana itulah yang muncul dalam makna kejujuran, yaitu tidak neko-neko, melakukan dan bicara apa adanya. Tidak perlu berpikir lama untuk bicara jujur. Karena kejujuran memang tidak perlu memikirkan untung dan rugi. Sampaikan apa adanya.

Tambahan lagi, sifat jujur dalam Islam merupakan sifat wajib bagi seorang Nabi/Rasul. Sifat wajib tersebut adalah shidiq, tabligh dan amanah. Dan tentunya sifat itu juga wajib ditiru oleh umat, karena Rasul umat Islam (Muhammad SAW) adalah uswatun hasanah, suri tauladan yang baik.

Selengkapnya...

Friday, February 15, 2008

Telkom ... oh... Telkom

"Pak, ini saya menolong loh karena Bapak minta bantuan ke saya. Bukan saya yang menawarkan bantuan ke Bapak. Karena sifatnya menolong, jangan sampai di kemudian hari ada ribut-ribut masalah biayanya", kira-kira seperti itu apa yang disampaikan oleh Pak Dar (nama samaran) saat kami minta bantuan untuk menguruskan pemasangan telepon rumah.

Seminggu sebelumnya kami sudah mendaftar pemasangan telepon baru ke Telkom Pakem. Seminggu tidak ada kabarnya, padahal Telkom berjanji 1 hari setelah pendaftaran, rumah kami akan disurvei. Akhirnya kami berinisiatif ke Pak Dar yang beberapa hari sebelumnya menawarkan pemasangan telepon ke 4 tetangga kami. Ternyata Pak Dar sudah diberi tahu oleh Telkom tentang pendaftaran kami. Kok bisa ya? Padahal Pak Dar ini bukan karyawan Telkom.

Pak Dar menyampaikan bahwa jaringan terdekat sudah habis. Ada jaringan yang tersisa namun agak jauh dari rumah kami. Kalau mengambil dari jaringan tersebut, biayanya mungkin akan lebih tinggi. Dan Pak Dar akan mengusahakan agar kami tetap bisa mendapatkan telepon.

Ternyata memang benar, biayanya lebih mahal Rp. 500ribu dibandingkan dengan tetangga-tetangga yang lain. Biaya tambahan ini diperlukan untuk pembelian tiang telepon karena masalah jarak tadi. Alhamdulillah, masih dalam anggaran yang kami sediakan. Akhirnya kami menyetujui biaya tersebut.

Tidak lebih dari 1 minggu, telepon pun dipasang. Semua biaya kami lunasi saat itu juga, mumpung uangnya sudah ada. Daripada ditunda-tunda, nanti uangnya malahan akan terpakai yang lain. Tiga hari kemudian telepon sudah bisa berdering.

Tibalah saat pembayaran rekening telepon untuk bulan pertama. Jika dihitung dari hari pertama telepon berdering, masa pemakaiannya tidak lebih dari 2 minggu. Lumayan juga nilainya, lebih dari Rp 200ribu. Buat apa saja ya? Mungkin melihat wajah keheranan saya, petugas loket menerangkan komponen rekening. Terdiri dari biaya pemakaian, abonemen, dan biaya pemasangan. Biaya pemasangan ini yang nilai terbesar yaitu sekitar Rp 150ribu.

Biaya pemasangan? Bukankah sudah kami lunasi?

Sampai di rumah, kami menelepon Telkom menanyakan biaya pemasangan yang kami ingat sudah kami lunasi. Kami diminta ke Telkom yang khusus untuk rekening. Sebelum ke sana, kami ke Pak Dar terlebih dahulu untuk menanyakan hal yang sama.

Tidak disangka, kami dimarahi. Terutama perihal pertanyaan kami ke Telkom. Menurut Pak Dar, urusan itu seharusnya ditanyakan ke beliau dan tidak seharusnya ke Telkom. Dan kami dilarang melapor ke Telkom.

"Dulu katanya tidak akan ribut-ribut?", kata Pak Dar. Kami kaget juga. Sebenarnya kami tidak bermaksud ribut-ribut. Hanya bertanya baik-baik. Atau memang definisi ribut-ribut itu adalah 'tidak boleh bertanya'?

Selanjutnya ini yang beliau sampaikan, "Itu kesalahan saya. Kami salah menghitung biaya. Sebagian uang itu juga dipakai buat 'uang rokok' petugas-petugas yang memasang jaringan. Tetapi kalau misalnya Pak Taufiq mau meminta uang itu, akan saya kembalikan dari kantong saya sendiri. Kalau misalnya tidak diminta, saya mengucapkan Alhamdulillah dan terima kasih. Saya doakan juga semoga rejeki Pak Taufiq lancar.".

Saat itu, kami belum memberi kepastian. Kami rundingkan dulu di rumah. Yang kami sesalkan, kenapa tidak disampaikan dari dulu. Kalau tidak kami tanya, sepertinya juga tidak akan dijelaskan. Anehnya, kasus ini juga terjadi pada tetangga yang lain.

Pagi keesokan harinya, Pak Dar datang ke rumah kami. Tanpa menanyakan kepastian dari kami, beliau langsung menyerahkan amplop berisi uang. Tanpa berpikir panjang, uang langsung kami terima. Beliau bilang agar melupakan kejadian ini.

Insya Allah, kami akan melupakan.

Selengkapnya...

Tuesday, December 18, 2007

Taksi

Selama ini saya banyak menulis tentang ketidak-jujuran. Kali ini saya akan menulis tentang kejujuran yang saya temui. Hebatnya, kali ini di kota yang terkenal "lebih jahat dari ibu tiri", saya menemukan kejujuran itu.

Turun dari kereta di Stasiun Gambir, seperti biasa saya nyari taksi yang ngetem. Seperti biasa juga, saya naik taksi yang memang sudah dikenal baik. Akhirnya, saya dapat sebuah taksi yang dipiloti oleh sopir dengan logat daerahnya yang kental.

Namun, tidak biasanya, saya lupa daerah tujuan. Nama gedungnya sih saya ingat, Wisma Aldiron. Tetapi saya lupa daerahnya. Padahal Pak Sopirnya lupa dengan nama gedung itu. "Daerah mana ya?". Karena lupa, jawaban saya seperti ini "Eh, mana ya? Kok saya lupa. Apa Pancoran ya?", masih dengan wajah ragu-ragu.

"Oh iya. Betul. Pancoran, pak", kata Pak Sopir, jadi ingat dengan gedung itu.

Masih dengan ragu-ragu, saya ikuti taksi berjalan. Tambah bingung juga waktu ditanya Pak Sopir, "Mau lewat mana?". "Terserah, Pak, saya juga nggak tahu. Saya nggak buru-buru kok", jawabku. Loh, kok saya bilang begitu. Semakin ketahuan dong, kalau saya benar-benar lupa dengan tujuan.

Selama perjalanan, saya benar-benar takut. Apalagi ternyata Pak Sopir mengambil jalan yang berbeda dari biasanya saya lalui. Saya seperti melewati tempat-tempat yang asing. Atau ini akibat saya lupa? Bukan sekali ini saya ke gedung itu dari Stasiun Gambir. Biasanya saya masih tetap bisa mengenali, walaupun saya lupa.

Saat mendekati Tugu Pancoran, saya baru bisa mengenali daerah itu. Dari arah datangnya taksi ke gedung, saya menyadari bahwa memang jalur yang diambil Pak Sopir taksi kali ini berbeda dengan taksi-taksi yang pernah saya pakai. Tidak heran kalau tadi saya tidak mengenali daerah-daerah yang kami lewati.

Di argo meter, saya baca harga yang harus saya bayar. Oh, segitu. Tidak jauh beda dengan sebelum-sebelumnya. Artinya, Pak Sopir tidak berniat untuk berputar-putar agar argonya bisa menunjukkan angka yang lebih besar. Mungkin maksud Pak Sopir untuk menghindari kemacetan yang sering terjadi di Jakarta. Apalagi waktu itu termasuk jam sibuk karena saatnya orang-orang berangkat ke kentor dan anak-anak sekolah berangkat ke sekolah.

"Terima kasih, Pak Sopir. Meskipun penumpangmu ini tidak tahu jalan, engkau tidak memanfaatkannya untuk mendapatkan keuntungan yang lebih banyak."

Selengkapnya...

Tuesday, December 11, 2007

Oleh-oleh dari Jakarta/Bandung

Sambil mendengarkan musik lewat earphone, saya memperhatikan seorang penjual di Stasiun kereta. Mereka menawarkan minuman kaleng buat wisatawan asing, yang hari ini terlihat sangat banyak. Sepintas saya perhatikan jenis minumannya. Sepertinya minuman bir. Wisatawan itupun terlihat menawar harga bir kaleng tersebut. Akhirnya terjadilah transaksi jual-beli. Penjual itu sangat bergembira, terlihat dari senyum lebarnya. "Besar po untungnya?", tanya hati saya dalam logat Jawa.

Setelah beberapa saat, penjual itu berjalan ke arah penjual lainnya, yang tadi ikut bergabung dengan penjual itu saat proses tawar menawar. Sambil berjalan, penjual yang beruntung tadi melambaikan uang ribuan sebanyak 2 lembar. Kali ini saya bisa mendengar suara penjual itu karena saya melepaskan earphone yang tadi menemani. "Nih, buat uang dengar", kata penjual tadi. Wah, besar juga untungnya. Dari 2 kaleng bir itu, dia bisa memberi temannya uang dengar sebesar Rp. 2 ribu. Berarti untungnya bisa lebih dari 2 kali uang dengarnya.

Tetapi bukan kisah itu, yang jadi kisah utama tulisan saya ini. Kisah di bawah inilah yang akan jadi cerita utama.

Akhirnya, setelah lama berdiri di stasiun (kurang lebih 1.5 jam), kereta jurusan Yogyakarta, yang akan saya tumpangi (tentunya dengan bayar) tiba. Takut terpeleset karena lantai dan tangga basah oleh air hujan pagi tadi, saya berjalan hati-hati waktu naik kereta. Innalillahi, betul juga, saya terpeleset. Tapi, alhamdulillah.... seorang wisatawan asing, yang berdiri tidak jauh, dengan sigap menangkap saya dan tongkat saya. Dengan dibantu oleh wisatawan itu, saya bisa berdiri lagi dan bisa masuk kereta. "Thank you very much," kataku.

Subhanallah, lebih dari separo penumpang di gerbong yang sama denganku adalah wisatawan asing. Mereka duduk di kursi deretan terdepan. Di belakang wisatawan, ada beberapa orang Indonesia. Sepertinya pemandu wisata. Kursi saya tepat di belakang pemandu-pemandu itu.

Tanpa banyak bicara dengan penumpang sebelah, saya langsung tidur. Kira-kira sudah 3 jam berlalu setelah kereta meninggalkan stasiun, saya terbangun karena mendengar suara sendok beradu dengan piring :D. Ternyata wisatawan-wisatawan itu sedang memesan makanan. Loh, kenapa memesan? Biasanya 'kan ada makanan gratis sebagai bagian layanan.

Atau nggak ada ya? Kecewa juga, padahal waktu berangkat, saya belum makan. Perut juga sudah memanggil-manggil untuk diisi. Karena sudah tidak tahan, akhirnya saya juga memesan makan, tepatnya nasi goreng. Lebih mahal kalau dibandingkan dengan harga nasi goreng di luar kereta. Tetapi jauh lebih murah dibandingkan saya turun kereta, beli nasi goreng, dan terus beli tiket kereta yang lain lagi karena ketinggalan kereta.

Satu jam kemudian, tibalah kereta di sebuah stasiun dan berhenti. Kalau tidak salah, Stasiun Gombong. Semua wisatawan asing yang duduk di deretan terdepan turun. Akhirnya, banyak tempat duduk yang kosong, lebih dari separo.

Baru beberapa menit meninggalkan Stasiun Gombong, petugas kereta datang membagi-bagikan nasi goreng, "Nasi goreng.... layanan kereta". Nah, lo. Kenapa baru dibagikan sekarang? Biasanya 'kan dibagikan tidak lama setelah kereta berangkat dari stasiun awal? Berarti wisatawan asing tadi tidak dapat. Padahal mereka membayar tiket dengan harga yang sama dengan penumpang yang lain.

"Pindah ke depan saja, Pak. Akan kosong kok ", begitu kata petugas kereta. "Biasanya kalau hari Sabtu memang seperti ini, banyak wisatawan asing. Mereka selalu turun di Stasiun Gombong", lanjutnya. Sambil menikmati nasi goreng kedua di kereta, saya mendengarkan obrolan seorang petugas kereta dengan penumpang lain.

Ooohhh, jadi mereka sudah hapal, kalau hari Sabtu selalu ada banyak wisatawan asing yang akan turun di Stasiun Gombong. Kalaupun tidak hapal, petugas kereta pasti tahu hal itu dari tiket. Kalau petugas kereta tahu banyak yang turun di Stasiun Gombong, mengapa mereka tidak segera membagikan nasi gorengnya? Agar mereka tidak perlu beli makan, dan mendapatkan haknya. Malah akhirnya wisatawan asing itu harus mengeluarkan uang untuk beli makanan.

Untung juga, ya. Pertama, tidak perlu mengeluarkan nasi goreng. Kalau dihitung lumayan juga. Kedua, karena nasi gorengnya tidak diberikan, mereka harus beli makan. Pokoknya dua kali untung.

Sengaja? Nggak tahu. Kok pemandu wisata, yang juga orang Indonesia, diam saja? Nggak tahu juga.

Tetapi kalau itu sengaja, berarti "Dongeng Kancil" berhasil menyampaikan pesannya, "Orang pintar (lebih tahu) sudah seharusnya membodohi (membohongi) orang bodoh (orang yang tidak tahu)". Bukan pesan, "Orang pintar seharusnya memberi tahu orang bodoh agar tahu".

Selengkapnya...

Wednesday, October 3, 2007

Iklan Sirup

Mohon maaf, kalau tulisan ini di luar topik. Nggak tahan saja melihat iklan yang akan saya ceritakan ini, yang sepertinya hanya akan diputar di bulan Ramadhan. Tetapi memang adalah perlu untuk sekali-kali menulis di luar topik.

Seperti yang sudah saya singgung di awal, iklan ini tentang minuman sirup (tidak perlu saya sebutkan mereknya). Diputar di bulan Ramadhan, dan kemungkinan hanya di Bulan Ramadhan karena berdasarkan isi ceritanya.

Cerita iklan diawali dengan seorang pemuda yang sedang menyapu. Saat menyapu, dia melihat anak-anak melempari pohon rambutan milik tetangga si pemuda. Saat itu juga, pemuda tersebut meneriaki anak-anak itu dan mengusir mereka pergi. Pemuda ini termasuk orang tidak punya, sedangkan tetangga pemilik pohon rambutan adalah orang kaya.

Setelah semua anak pergi, pemuda tersebut memunguti rambutan yang sudah jatuh dan menaruhnya ke dalam keranjang bambu. Lumayan banyak juga. Selanjutnya rambutan yang sudah terkumpul diantar ke pemilik pohon. Seorang Ibu, pemilik rumah, menerima rambutan itu dengan wajah dingin sambil bilang "oooo.....". Pemuda itu meninggalkan pemilik rumah dengan wajah nyengir.

Sore harinya, ibu tadi mengirim es sirup, tentunya sirup merek iklan tsb, yang dicampur dengan rambutan ke pemuda itu. Tetap dengan wajah tanpa senyum, ibu itu memberikan es sirup tersebut (Episode yang baru, ada senyumnya). Dan tentu si pemuda menyambut dengan senyum ceria.

Ada dua hal yang perlu dicermati, pertama kenapa saat menerima rambutan ibu tadi menerima dengan wajah dingin tanpa ucapan terima kasih. Kedua si pemuda juga dengan ekspresi wajah nyengir. Intepretasi terhadap iklan ini tergantung penonton karena memang iklan tsb menggunakan bahasa tubuh.

Kalau intepretasi saya tentang ibu tadi, balasan berbentuk materi lebih penting dari non materi. Sirup sebagai simbol materi adalah yang diberikan oleh ibu tersebut. Sedangkan ucapan terima kasih yang tulus dan wajah dengan senyum adalah simbol non materi, yang tidak diberikan. Ibu tersebut lebih suka memberikan sirup daripada senyuman dan ucapan terima kasih.

Sedangkan intepretasi saya tentang pemuda tadi, saat dia membantu, dia mengharapkan sedikit rambutan diberikan ke dia. Tetapi ternyata ibu tadi tidak memberikan rambutan yang sudah dikumpulkan. Makanya wajahnya jadi nyengir. Mungkin kurang ikhlas.

Dan memang, sepertinya itu yang terjadi di masyarakat kita. Kita lebih suka memberikan balasan materi daripada non-materi terhadap orang lain yang membantu kita. Kalau dua-duanya tidak masalah. Tetapi jangan sampai yang non-materi tidak diberikan sama sekali.

Demikian juga dari sisi orang yang membantu orang lain. Janganlah kecewa kalau orang tidak memberikan penghargaan terhadap apa yang kita lakukan. Kita harus benar-benar ikhlas dalam membantu.

Kalau dari sudut pandang saya sendiri, sungguh saya sangat senang jika orang yang saya bantu berhasil. Dan, Insya Allah, tidak ada keinginan untuk mendapatkan balasan materi. Tetap menganggap saya sebagai teman dan tidak segan untuk minta bantuan lagi, sudah merupakan balasan yang sangat menyenangkan.

Selengkapnya...

Monday, September 17, 2007

Puasa Melatih Kejujuran

Tulisan ini saya ambil dari isi kutbah Jum'at di Masjd Ulil Albab, UII, tanggal 14 September 2007. Karena intinya sesuai dengan tema blok ini, maka saya tulis ulang. Tentunya, hanya isinya yang sama, sedangkan kalimat-kalimatnya berbeda dan juga lebih singkat.

Saat ini, umat Islam sedang menjalankan ibadah wajib, Puasa Ramadhan. Dalam puasa ini, setiap muslim yang berpuasa dilarang makan dan minum mulai dari terbit fajar (Subuh) sampai terbenamnya matahari (Maghrib). Terlepas dari larangan yang lain, dalam kutbah tersebut hanya membahas larangan utama tersebut.

Seperti biasa, orang tidak selamanya berkumpul dengan yang lain. Adakalanya sendiri. Di saat sendiri seperti itu, tidak ada orang yang mengawasi. Demikian juga dengan orang yang sedang berpuasa. Nah, di saat sendiri seperti itu, orang yang berpuasa akan punya kesempatan makan dan minum. Tidak sulit buat orang tersebut untuk makan dan minum sekenyang-kenyangnya, dan setelah itu orang lain juga akan tetap percaya kalau orang tersebut bilang masih sedang puasa.

Namun kenapa tidak ada orang berpuasa yang melakukan demikian? Kalaupun ada, pasti dalam hatinya orang tersebut yakin bahwa dia sebenarnya tidak puasa.

Jawabnya, karena setiap orang merasa yakin bahwa Allah SWT selalu mengawasi. Tidak ada gunanya mereka berbohong ke orang lain berpuasa, karena mereka sebenarnya tidak bisa bohong ke hati mereka sendiri dan Allah SWT.

Dengan demikian, jika kita memang benar-benar berpuasa, maka kita dilatih untuk jujur. Dan kita dilatih selama 1 bulan penuh.

Alangkah indahnya jika setiap saat, di luar bulan Ramadhan, kita juga merasakan hal yang sama. Bahwa setiap langkah dan tindakan selalu ada Allah SWT yang selalu mengawasi. Karena ada yang mengawasi, tidak akan ada kejahatan yang terkait dengan ketidakjujuran seperti korupsi, manipulasi, penipuan, pemalsuan, penggelapan, selingkuh, dll.

Selengkapnya...

Friday, August 3, 2007

Halo, Ini dengan Pak Taufiq?

Itulah ucapan pertama dari telpon seberang, yang menghubungi handphone saya. Karena memang saya yang menerima, langsung saya jawab, "betul". Meskipun saat itu, saya sedang asyik-asyiknya mendengarkan sebuah presentasi dalam acara Rapat Koordinasi Fakultas. Tambah semangat lagi menerima telpon, saat penelpon bilang, "Nomor hp milik isteri Bapak mendapat hadiah dari XXX (sebuah perusahaan telekomunikasi) sebagai pelanggan teraktif tahun 2006. Hadiah berupa uang Rp. 10 juta dan pulsa sebesar Rp. 1 juta. dst".

Sebagai pelanggan teraktif? Rasa-rasanya memang iya, karena saya termasuk rajin membayar nomor dari Kartu Pascabayar tersebut, dan selalu menghabiskan limit penggunaan :). Tetapi, saya 'kan belum setahun menggunakan kartu tersebut. Bahkan bisa dibilang, untuk tahun 2006, kami baru menggunakan 2 bulan.

Mengabaikan keheranan itu dan cerita dari teman-teman tentang penipuan, saya layani penelpon tadi. Dan penelpon tersebut menyampaikan tujuannya bahwa dia akan mengirim hadiah tersebut lewat transfer antar rekening Bank. Karena sudah sore, waktu itu sudah pukul 16.?? WIB, dia tidak bisa mentransfer ke Bank. Satu-satunya cara adalah lewat ATM.

Tambah heran dan saya mulai curiga. Jadi teringat tentang penipuan lewat SMS. Tetap mencoba mengabaikan, karena penipuan biasanya 'kan lewat SMS, tetapi saat ini lewat telpon. Saya cek nomor telpon yang tertera di HP, terbaca 021..... Belum sadar, kalau nomor itu juga bisa nomor HP, saya lanjutkan.

Penelpon tersebut akan mentransfer hadiah dengan cara, saya harus ke mesin ATM membawa kartu ATM saat itu juga karena hari itu adalah hari terakhir pengiriman hadiah. Dan lewat mesin ATM itu, penelpon akan memandu pengiriman uang. He.. he.. he.., kalau ini sih sudah jelas, penipuan. Masak mau dikirimi uang, saya yang harus ke ATM?

Namun, mendengar kemampuan bicaranya yang meyakinkan, saya sempat bingung bagaimana menutup pembicaraan. Akhirnya, dengan sedikit "menyombongkan diri", saya bilang: "Sepertinya lebih baik saya menolak hadiah ini, Pak. Karena saat ini saya sedang rapat, dan tidak ingin meninggalkannya karena memang rapat penting. ".

Dan selesailah pembicaraan karena penelpon tersebut bilang bahwa dia tidak memaksa. ....

Selengkapnya...

Thursday, August 2, 2007

Lewat jalan pintas

Untuk memperingati Hari Ulang Tahun berdirinya institusi tempat saya bekerja, diadakan lomba jalan sehat keluarga. Setiap karyawan, baik administratif maupun edukatif, dianjurkan untuk ikut dan membawa keluarga. Bagus, sih, sekaligus bisa mengakrabkan keluarga. Yang menarik adalah saat pelaksanaan lomba.

Rute jalan sehat bisa digambarkan dalam bentuk persegipanjang. Lumayan jauh dan bisa bikin kaki pegal-pegal. Dengan semangat tinggi, sebagian besar mengikuti lomba, namun ada beberapa anggota keluarga tidak ikut serta. Ya nggak masalah, karena ada anggota keluarga lain yang sudah menjadi wakilnya.

Yang jadi masalah, sebelum melewati satu sisi persegipanjang, beberapa peserta ada yang memotong rute. Mereka melewati jalan pintas, sehingga rutenya menjadi lebih pendek. Karena memang bukan acara formal KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia), tidak ada juri yang mengawasi. Tidak ada yang melarang.

Memang tidak butuh juri untuk mengawasi pelaksanaan lomba. Kita hanya butuh diri-sendiri untuk mengawasi diri kita sendiri agar tetap di jalur yang sebenarnya. Demikian itu jika kita sadar tujuan dari pelaksanaan lomba. Kalau kita tidak menyadari tujuan dari lomba, sah-sah saja kalau mau mengambil jalan pintas.

Selengkapnya...

Wednesday, April 25, 2007

"Ada penyakit di Eskrim."

Cerita tentang anak memang tidak ada habisnya. Ada saja kejadian yang menarik kita, termasuk saya. Dan juga menarik untuk ditulis di blog ini :). Dan inilah ceritanya.

Sudah jadi kebiasaan kami, bahwa kami sangat selektif terhadap makanan. Karena kami berasumsi bahwa makanan berpengaruh terhadap perkembangan fisik, yang di antaranya adalah perkembangan otak. Sehingga makanan yang mengandung zat-zat yang berbahaya, kami cegah untuk tidak masuk ke tubuh anak-anak kami. Misalnya zat pewarna tekstil, pengawet makanan, dan pemanis buatan. Karena menyesuaikan dengan bahasa anak, kami menggunakan istilah "ada penyakit" untuk menyebutkan makanan yang mengandung zat-zat berbahaya tersebut.

Untuk makanan yang menyebutkan bahan-bahan pembuatnya, tugas kami menjadi sedikit lebih ringan. Kami cukup menunjukkan bahan-bahan mana yang kami sebut sebagai "ada penyakit" tadi. Karena anak kami sudah bisa membaca, akhirnya anak kami tersebut sudah dapat memilih makanan yang aman. Dia tinggal mengecek apakah ada bahan makanan yang berbahaya, yang sudah kami sebutkan. Kalau ada bahan yang aneh, yang belum dia lihat, biasanya dia langsung menanyakan ke kami. Alhamdulillah, anak kami cukup konsisten dengan hal ini.

Sampai suatu hari, anak kami dikasih tahu temannya yang bernama Nik. Sambil berteriak dari rumahnya, Nik bilang, "Mas, katanya mamaku, eskrim itu ada penyakitnya lho", sambil menyebutkan jenis dan merek eskrim tersebut. Anak kami yang sudah sering makan eskrim tersebut menjadi kaget. Juga sambil berteriak dari rumah, anak kami dengan yakin bilang bahwa eskrim tersebut tidak ada penyakitnya karena dia sudah baca sendiri bahan makanan yang terkandung di dalam eskrim tersebut.

Memang istilah "ada penyakit" sudah digunakan anak kami ke teman-temannya. Sehingga istilah tersebut sudah terbiasa dipakai untuk menyatakan bahan makanan berbahaya.

Akhirnya, adu mulut pun terjadi, mempertahankan pendapatnya. Anak kami tetap pada pendapatnya karena sudah baca sendiri. Sedangkan si Nik mempertahankan pendapatnya karena mamanya yang ngasih tahu.

Isteri saya yang berada di dalam rumah tidak berani keluar karena pada saat itu mama si Nik ada di situ. Padahal anak kami sudah sampai bilang bahwa mama Nik berbohong. Artinya, anak kami berani bilang bahwa mama Nik bohong di depan orang yang dimaksud.

Bingung juga kami menjelaskan. Karena esok harinya, anak kami minta dibelikan eskrim yang dimaksud untuk membuktikan bahwa dia benar. Setelah kami belikan, dengan menyebutkan satu-persatu ke kami, anak kami menanyakan apakah ada bahan yang berbahaya. Dengan yakin pula, kami menjawab, memang tidak ada satupun dari bahan yang disebutkan tadi, terdapat bahan berbahaya.

Benar-benar bingung, bahan mana sih yang menurut mama Nik adalah berbahaya?

Selengkapnya...

Sunday, April 8, 2007

Rejeki, Amanah, atau Ujian?

Beberapa hari ini saya mendapatkan banyak ucapan selamat dari teman-teman, baik dari teman-teman dosen dan peneliti maupun dari rekan-rekan mahasiswa. Ucapan selamat tersebut berkaitan dengan diterimanya proposal penelitian saya, yang selanjutnya akan didanai oleh Dikti (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi) - Depdiknas. Pendaanaan itu disebut sebagai hibah. Penelitian tersebut saya rencanakan selama 3 tahun, yang tiap tahunnya membutuhkan dana sekitar Rp. 40 jt.

Alhamdulillah, itu yang terucap pertama kali. Ada 2 hal yang memang harus saya syukuri. Pertama, saya mendapatkan kesempatan untuk melakukan penelitian secara resmi. Memang, penelitian tidak resmi sudah sering saya lakukan. Saya sebut tidak resmi karena memang tidak terdaftar di manapun, dan tidak terjadwal. Istilahnya, semau gue lah. Kalau mau saya lanjutkan, saya lanjutkan. Kalau tidak mau, ya saya tinggalkan. Dan juga bersifat insidentil, misalnya kalau ingin membuat paper atau ada mahasiswa yang mencari judul tugas akhir. Namun untuk penelitian ini, saya tidak bisa berbuat seperti itu.

Kedua, ada limpahan rejeki. Sebagian dari dana yang saya ajukan tadi adalah honorarium untuk peneliti, termasuk saya sebagai peneliti utama. Sedikit buka rahasia, sekitar 15% dari dana tersebut akan masuk ke kantong saya. Tidak besar sih, jika dibandingkan dengan penghasilan mengerjakan proyek dari luar institusi. Tetapi kepuasan meneliti memang tidak bisa diganti dengan uang. Apalagi jika hasilnya dapat dimanfaatkan oleh orang banyak.

Namun, ada yang tidak boleh dilupakan. Dana hibah tersebut adalah dana bantuan dari pemerintah lewat Dikti, bertujuan untuk membantu peneliti agar dapat melakukan penelitian dan menghasilkan produk yang berguna. Berarti peneliti sudah diberi kepercayaan oleh pemerintah untuk mengelola uang negara untuk kepentingan penelitian. Karena pemerintah adalah kepanjangan tangan rakyat, berarti saya juga sudah diberi kepercayaan oleh rakyat.

Sebuah amanah yang tidak ringan. Dengan kepercayaan itu, saya dituntut untuk bersungguh-sungguh dalam melakukan penelitian sehingga penelitian saya berhasil. Memang keberhasilan penelitian ditentukan oleh Yang Di Atas. Namun, saya punya kewajiban untuk berusaha, tetap konsisten, dan tentunya tidak lupa berdoa agar berhasil. Ada ratusan juta manusia yang akan meminta pertanggung-jawaban ke saya. Kalau tidak bisa di dunia, pasti bisa diminta di alam yang lain.

Selain itu, penggunaan dana juga harus selalu saya ingat. Seperti yang sudah saya sebutkan tadi, dari sekian juta dana yang saya usulkan, 15% adalah gaji saya dan sisanya untuk keperluan penelitian. Berarti 85% bukan uang saya, yang sekarang ada di tangan saya. Jumlah yang jauh lebih besar dibandingkan dengan honorarium saya.

Sangat memungkinkan, seandainya saya mengubah proporsi tersebut, tanpa sepengetahuan Dikti. Caranya juga tidak sulit, yaitu dengan memanipulasi laporan akhir tahun, yang setiap tahun akan saya buat. Contohnya adalah memanipulasi pengeluaran. Misalnya, saya membeli sebuah alat dengan harga Rp. 10 jt, tetapi saya minta ke tokonya untuk membuat bon pembelian dengan harga yang lebih tinggi, misal Rp. 14 jt. Artinya, uang yang saya keluarkan Rp. 10 jt, tetapi saya laporkan Rp. 14 jt. Benarkah cara yang demikian? Menurut saya, itu tidak benar. Tidak perlu sulit-sulit untuk mencari alasan bahwa itu tidak benar, yaitu Tidak Jujur.

Jadi, manakah yang tepat menggambarkan hibah? Rejeki, amanah, atau ujian?

Selengkapnya...

Thursday, April 5, 2007

Masalah Nama Samaran

Kemarin sore, bertemu dengan Pak T. Pak T ini saya singgung pada tulisan saya sebelumnya yang berjudul "Daging Korban". Saat bertemu kemarin, beliau membahas tentang orang-orang yang terkait dalam tulisan, yang nama-namanya selalu saya samarkan, termasuk Pak T. Beliau mempermasalahkan nama-nama yang selalu saya samarkan tersebut. Padahal, masih menurut beliau, blog ini 'kan bicara tentang kejujuran, kok nama-namanya malah tidak jujur.

Memang benar apa yang Pak T sampaikan. Tetapi, Insya Allah, penyamaran ini hanya masalah privasi. Bahwa tokoh-tokoh yang muncul, harus dilindungi kerahasiannya. Menurut saya memang itu kode etik dalam jurnalisme. Apalagi blog ini bersifat global, dimana setiap orang bisa membaca blog saya.

Blog ini memang saya setting agar semua orang bisa membaca, tanpa perlu saya daftarkan ataupun menjadi anggota blogspot. Resikonya, setiap orang, tanpa perkecualian, akan dapat mengkases. Sebagai bentuk tanggung jawab, adalah kewajiban saya untuk merahasiakan tokoh-tokoh yang saya munculkan.

Selain itu, penekanan untuk setiap tulisan saya adalah perbuatannya, bukan pada pelakunya. Dan Insya Allah, kejadian dan pelaku adalah benar-benar ada. Tidak ada yang fiktif.

Namun, saya ucapkan terima kasih atas masukan Pak T. Dan atas masukan itu, akan ada perubahan pada blog ini, yaitu kemungkinan penulisan nama-nama sebenarnya. Tentunya setelah mendapat ijin dari yang bersangkutan. Contohnya adalah Pak T, yang nama sebenarnya adalah Pak Tito Yuwono, Dosen Teknik Elektro, Universitas Islam Indonesia.


Terima kasih, Pak Tito. Jazakallahu khairan katsiira...

Selengkapnya...

Wednesday, April 4, 2007

Harga-harga Psikologis

Sebenarnya sudah cukup lama saya ingin menulis ini. Namun, karena kesibukan baru kesempatan kali ini saya bisa menulisnya.

Kalau kita ke toko, supermarket, atau pusat-pusat perbelanjaan, tentunya sudah biasa menjumpai harga-harga yang tidak bulat. Harga-harga itu ada kemungkinan tidak bisa dibayar dengan uang pas. Sebagai contoh adalah Rp. 1580. Harga itu tidak mungkin dibayar dengan uang pas karena tidak ada receh Rp 10, misalnya. Demikian juga kalau dibayar Rp. 1600, pasti tidak ada uang kembalian. Untungnya, pihak toko tidak mau dibayar kurang, maunya tetap dibayar lebih, yaitu Rp. 1600. Kalau total belanjaan sedikit, presentasi uang yang kita bayar di luar harga barang yang kita beli, akan besar. Tetapi kalau total belanjaan kita banyak, memang tidak akan terasa.

Keuntungan yang bisa didapatkan pembeli, jika harga setiap barang itu lebih murah dari toko lain maka akan terasa hemat. Namun hal itu berlaku jika belanjaan banyak. Kalau tidak, akan sama saja, karena tidak adanya uang kembalian.

Keuntungan buat penjual, dengan harga yang lebih murah, akan menarik pelanggan. Meskipun selisihnya mungkin hanya beberapa rupiah. Sebagai contoh, harga di toko lain Rp. 2000, sedangkan di toko kita adalah Rp. 1980. Sekilas, pembeli akan melihat harga di toko kita lebih murah, yaitu sekitar seribuan. Sedangkan di toko lain, harganya sekitar dua ribuan. Meskipun nanti pada akhirnya, uang yang dibayarkan akan sama, karena tidak adanya uang kembalian.

Selain masalah harga tersebut, yang saya sebut sebagai pemanfaatan faktor psikologis, konon katanya harga tersebut juga untuk mengakali pajak. Mungkin benar, mungkin juga tidak. Karena tidak mungkin dengan selisih beberapa rupiah, pajaknya akan beda. Maksud saya dengan perbedaan di sini adalah perbedaan prosentase pajak.

Terlepas motivasi di belakang harga-harga itu, konsentrasi pembahasan saya sebenarnya bukan pada 'kita sebagai pembeli', namun lebih ke seandainya 'kita sebagai penjual'. Kalau kita sebagai pembeli, pasti setiap orang setuju tidak akan mempermasalahkan kelebihan yang kita bayarkan karena nilai itu terlalu kecil.

Namun, jika kita sebagai penjual maka sebenarnya kita telah melakukan kebohongan yang sangat besar, yang kita lakukan terhadap banyak orang. Kita telah melakukan pemaksaan setiap orang untuk membayar di luar dari harga yang seharusnya sudah disepakati. Harga yang sudah disepakati adalah harga yang tertulis di produk. Pada saat pembeli memilih barang yang akan dibeli, sebenarnya pembeli dan penjual sudah sepakat tentang harga. Namun kesepakatan itu kita langgar dengan pembayaran yang lebih karena alasan tidak ada uang kembalian.

Kenapa itu kebohongan? Karena pada saat kita menentukan harga itu, kita sudah tahu bahwa tidak mungkin pembeli akan membayar dengan uang pas. Dan harga itu harus dibulatkan ke atas tergantung uang terkecil yang beredar.

Fenomena yang lain, pembulatan tidak hanya ke uang terkecil. Sebagai contoh adalah uang Rp. 50 dan Rp. 100. Meskipun uang kecil tersebut masih ada, namun kadang-kadang pembulatan ke atas dilakukan ke ribuan terdekat. Alasannya sama, tidak ada uang kembalian. Seandainya kita penjual, kalau harga kita kemungkinan besar akan memunculkan kembalian dalam recehan tersebut, maka kita wajib menyediakan recehan itu sebanyak mungkin.

Saya teringat waktu belanja alat elektronik di Jerman. Barang-barang yang mereka jual sebagian berharga ratusan Euro. Karena masalah pajak, ada harga-harga yang memunculkan kembalian hanya 10 sen. Tetapi ternyata mereka juga menyediakan recehan tersebut.

Ada 2 hal yang memalukan saya. Sebagian besar dari mereka sebenarnya adalah atheis, sedangkan kita mengaku beragama. Namun ternyata mereka lebih jujur. Mereka memiliki penghasilan yang lebih besar dari kita. Namun ternyata mereka (pembeli dan penjual) lebih perhatian terhadap uang kecil mereka dan tidak meremehkannya.

Terakhir, seandainya kita penjual, kita tidak seharusnya menjual pulsa Rp. 50.000 dengan harga Rp. 49.500, kalau kita tidak punya uang receh Rp. 500. Karena itu benar-benar kebohongan yang nyata.

Selengkapnya...