Thursday, July 9, 2009

Jangan Mengkhianati Janji

Pengalaman yang sangat berharga untuk saya sekeluarga saat menginjak kembali tanah Dresden, Germany. Pengalaman yang mengingatkan saya tentang ajaran Rasulullah SAW agar kita tidak mengkhianati janji.

Saat itu hari Kamis, 18 Juli 2009, pukul 17.55 waktu setempat. Kami tiba di Dresden, turun dari kereta langsung dijemput teman (terima kasih, Ari) dan diantar ke sebuah apartemen privat dengan menumpang taksi. Kami sudah mem-booking apartemen ini untuk 2.5 bulan, dari 18 Juni 2009 sampai dengan 31 Agustus 2009, melalui Sekretaris calon pembimbing saya seminggu sebelum kami tiba di Dresden. Beliau juga yang mencarikan apartemen itu.

Setelah sampai ke apartemen tersebut, kami baru menyadari bahwa apartemen ini lumayan jauh dari stasiun kereta yang di pusat kota. Apalagi setelah melihat argo. Hampir 20 Euro terpampang di alat itu. 'Kampung', itulah kata yang tepat untuk menggambarkan lokasi apartemen kami. Apalagi setelah masuk ke apartemen. Apartemen kami terletak di lantai 2, lantai paling atas. Tidak ada tangga untuk sampai ke lantai 2 itu. Tetapi jangan salah dengan istilah 'lantai 2' ini. Lantai 2 di sini adalah 2 lantai di atas lantai yang sejajar dengan tanah. Ini berbeda dengan di Indonesia: lantai 2 adalah 1 lantai di atas lantai yang sejajar dengan tanah.

Sehari istirahat, di samping masih capek karena telah menempuh perjalanan selama lebih dari 24 jam (dari Yogyakarta), juga untuk mengatasi masalah perbedaan waktu (jetlag). Kemudian kami mencoba berbelanja ke salah satu supermarket. Perjalanan dimulai dengan jalan kaki menuju halte. Kami melalui jalur seperti yang disarankan pemilik apartemen. Tetapi karena tidak begitu menangkap yang beliau sampaikan akibat telinga yang asing lagi ke Bahasa Jerman, kami kebingungan saat menjumpai pertigaan, lurus atau belok kanan(?).

Akhirnya kami bertanya ke orang yang lewat. Kami menjadi takut karena ada beberapa orang yang tidak mau ditanyai, dan mereka seperti ketakutan melihat kami. Ada 2 orang wanita yang akhirnya menjawab dan menunjukkan arah jalan yang harus kami lewati, meskipun dengan wajah yang tidak ramah. Jalan yang ditunjukkan ternyata harus melewati hutan. Walaupun jalan setapak, dan tentu saja jalan tanah, itu cukup lebar, perasaan takut tetap saja ada. Setelah berbelanja, kami memutuskan mencari jalan alternatif lain yang melewati perkampungan, yang sebelumnya dilewati oleh taksi yang kami tumpangi kemarin. Jalan inipun tidak mudah, menanjak lumayan tajam lalu turun. Jalur terakhir ini lebih panjang dan lebih berat dibandingkan jalur pertama. Namun, jalur terakhir memberi rasa aman karena melewati perkampungan.

Dari pengalaman pertama ini, kami tahu bahwa ada 2 halte angkutan umum yang bisa kami gunakan. Halte pertama lebih dekat, tetapi hanya dilalui bus untuk setiap 1 jam dan tidak ada bus lagi setelah jam 7 malam dan pada sabtu-minggu. Sedangkan halte kedua lebih jauh (2 kali dari jarak halte pertama). Kelebihan halte kedua, dilalui bus untuk setiap 5 menit di hari kerja dan setiap 15 menit pada hari sabtu-minggu. Namun, untuk mencapai halte pertama dibutuhkan waktu 10 menit jalan kaki bagi orang yang normal. Jarak yang cukup jauh buat saya.

Esok harinya, saat kami bermain ke salah satu teman yang tinggal dekat kampus, ditawari apartemen lain. Meskipun jauh juga dari kampus tetapi lebih sering dijangkau angkutan umum dan ada halte tepat di depan apartemen. Selain itu juga lebih murah dengan selisih 90 Euro. Kami pun memutuskan akan pindah bila sudah ada konfirmasi dari pemilik apartemen yang baru. Sebut saja apartemen Helerau.

Setelah mengontak beberapa kali, diperoleh informasi bahwa apartemen yang sebelumnya ditawarkan ke teman saya tadi (yang berada di lantai 0) sudah diambil orang. Kami ditawari apartemen lain di lantai 2 dengan harga yang lebih mahal. Bahkan lebih mahal dibandingkan apartemen sekarang. Awalnya kami akan memutuskan akan mengambil. Namun akhirnya kami batalkan setelah mengetahui bahwa yang tinggal di lantai 0 adalah veteran perang afghanistan yang pulang ke Jerman dengan kehilangan hampir semua anggota tubuhnya. Bukannya kami takut, tetapi melihat penampilan kami yang hampir sama dengan pejuang Taliban, kami khawatir orang tersebut masih punya dendam dan akan terpicu lagi bila melihat kami.

Akhirnya kami, dibantu teman-teman Indonesia lain (Jazzakumullah khairan katsiiro), mencari informati apartemen lain. Waktu yang kami punya sangat sempit karena kami harus segera lapor di ke Pemerintah Kota. Padahal kami belum bisa lapor diri sebelum dapat apartemen baru atau memutuskan tetap tinggal di apartemen yang lama. Kami sendiri juga mencari ke beberapa biro dan datang langsung ke apartemen-apartemen lain. Dan hasilnya adalah nihil. Sampai-sampai kami kehabisan energi untuk mencari apartemen ini.

Karena masalah waktu untuk segera lapor diri, kami putuskan untuk tetap tinggal di apartemen saat ini dan mencoba bersabar dengan jarak yang harus kami tempuh. Setelah kami merenung sejenak, kami sadar bahwa kalau kami pindah apartemen sebenarnya kami sudah membatalkan perjanjian dengan pemilik apartemen untuk tinggal selama 2.5, dan itu sangat merugikannya. Apalagi kesalahan sebenarnya terlihat pada kami, yang tidak sempat melihat lokasi apartemen, yang seharusnya tetap bisa kami lakukan dari Indonesia melalui internet.

Alhamdulillah, Allah SWT tidak mengijinkan kami untuk pindah karena itu melanggar perjanjian dengan pemilik apartemen. Meskipun perjanjian itu tidak tertulis, namun Allah SWT dan Rasulullah SAW tidak pernah membedakan antara melanggar perjanjian tertulis dan melanggar perjanjian tidak tertulis. Dan betapa usaha kami untuk pindah apartemen ini dipersulit, dengan beberapa bukti:
  1. Saat kami tiba di Dresden, teman yang menawarkan apartemen Helerau sudah berusaha menjemput kami, yang rencana selanjutnya adalah melihat apartemen Helerau. Dan kemungkinan besar kami akan mendapatkan apartemen itu jika dilakukan saat itu. Tetapi qadarullah, teman saya salah melihat jadwal kedatangan kereta kami sehingga kami tidak bertemu. Kami tiba pukul 17.55, sedangkan mereka menjemput pukul 20.00.
  2. Saat kami menanyakan apartemen Helerau yang lantai 0, hanya sehari sebelumnya ada yang melihat rumah itu. Sehingga waktu kami mau mengambil, pemilik apartemen merasa tidak enak sebelum menanyakan kepastian dari orang itu. Dan ternyata memang orang itu memutuskan mengambilnya. Betul... saya terlambat 1 hari.
  3. Saat kami memutuskan untuk mengambil apartemen Helerau yang lantai 2, kami teringat cerita pemilik apartemen tentang orang yang menyewa di lantai 0, yaitu veteran perang Afghanistan. Sangat kebetulan kalau pemilik apartemen menceritakan dengan sangat detil tentang penyewa apartemennya.
Sesungguhnya, semua proses keberangkatan kami dari Indonesia sampai kedatangan kami di Berlin, lalu ke Dresden, berjalan lancar dan sangat dimudahkan oleh Allah SWT. Tidak pernah ada satupun pihak berwenang yang mempersulit, termasuk pihak imigrasi Berlin-Jerman, pihak yang seharusnya paling galak. Saat beberapa wanita bercadar -yang satu pesawat dengan kami- tidak berani mengenakan cadarnya, kami (termasuk isteri saya yang bercadar) malah diloloskan meskipun surat penerimaan dari universitas tidak bisa kami tunjukkan saat mereka minta.

Jadi, hanya urusan pindah apartemen ini saja yang terasa sulit. Tetapi kejadian ini menyadarkan kami bahwa kami harus tetap menjalankan perintah Allah SWT dan Rasul-Nya SAW dimana pun kami berada, yang salah satunya adalah tidak melanggar perjanjian meskipun itu dengan orang kafir sekalipun.

Tanpa kami sadari, ternyata dari majalah yang kami bawa, salah satunya (Majalah SwaraQuran) memuat tentang perjanjian ini. Dan salah satu kisahnya adalah perjanjian damai Rasulullah SAW dengan kaum kafir dan musyrikin Mekkah. Waktu itu Rasulullah SAW sudah hijrah ke Madinah, dan akan melakukan umrah ke Ka'bah. Sekilas orang akan melihat bahwa perjanjian ini sangat merugikan kaum muslimin. Namun Rasulullah SAW tetap mematuhi perjanjian ini. Berikut adalah salah satu contohnya.

Dalam perjanjian itu, disebutkan bahwa jika ada orang Mekkah yang masuk Islam dan hijrah ke Madinah maka Rasulullah SAW harus mengembalikan orang itu ke Mekkah. Beberapa saat setelah perjanjian itu ditanda-tangani, ada seorang pemuda Mekkah yang masuk Islam dan ingin ikut Rasulullah SAW ke Madinah. Karena perjanjian itu, Rasulullah SAW tidak mengijinkan pemuda itu untuk ikut ke Madinah tetapi Beliau suruh untuk kembali ke Mekkah. SubhanAllah... dan terbukti Rasulullah SAW tidak pernah melanggar seluruh isi perjanjian itu, sampai pihak kafir/musyrikin Mekkah melanggarnya.

Bagi teman-teman yang berada di perantauan negeri kafir, semoga Allah SWT memudahkan kita untuk selalu menolong agama-Nya sehingga Dia akan selalu menolong urusan kita. Amiiinn....

Tuesday, May 12, 2009

Hukum Kisah-kisah Palsu

Tidak bisa dipungkiri bahwa banyak cerita-cerita yang tidak nyata, yang mengandung hikmah di dalamnya. Namanya juga cerita yang tidak nyata, semua kejadian di dalamnya pun tidak nyata, hanya hasil rekaan pembuat cerita. Sekali lagi, mungkin cerita itu banyak mengandung hikmah dan memberikan nasehat kebaikan.

Namun, sangat disayangkan kalau cerita-cerita yang tidak nyata lebih banyak dipakai, dibandingkan dengan kisah-kisah nyata, yang juga tidak kalah mengandung hikmah dan nasehat kebaikan. Kisah-kisah tentang para Nabi AS, kisah-kisah di Al-Qur'an, kisah Rasulullah SAW dan keluarga, kisah para sahabat RA, dan kisah-kisah orang-orang shaleh adalah kisah yang seharusnya tidak dilupakan. Kisah-kisah yang dimaksud tentunya adalah kisah-kisah yang diakui kebenarannya.

Ada sebuah tulisan menyangkut hal ini yang ditulis di majalah Nikah Edisi Mei 2009. Silakan dibaca dan semoga ada manfaatnya.

Monday, May 11, 2009

Hukuman Pendusta Menurut Semut

Oleh: Mamduh Farhan al-Buhairi

Salah seorang da'i mengisahkan kisah nyatanya sendiri, dia berkata:

Pada suatu kesempatan, aku duduk di sebuah daratan. Kupalingkan pandanganku kesana kemari melihat makhluk-makhluk Allah SWT. Akupun terkagum-kagum dengan ciptaan ar-Rahman SWT. Seekor semut menarik perhatianku. Dia berkeliaran di sekitarku untuk mencari sesuatu, mencari, dan mencari. Tidak merasa terbebani, juga tidak bosan. Di tengah-tengah pencariannya, dia menemukan sisa-sisa bangkai belalang, tepatnya adalah kaki belalang.

Diapun menyeretnya, dan menyeretnya, dan berusaha untuk membawanya ke tempat tertentu yang telah ditentukan oleh hukum mereka di dunia semut. Dia sudah banyak berusaha dalam usahanya tersebut.

Setelah beberapa waktu, dan kesungguhan, dia merasa tidak bisa membawa kaki belalang tersebut. Lalu dia tinggalkan buruan berharga tersebut, kemudian pergi ke suatu tempat yang tidak kuketahui, dan diapun menghilang.

Selang beberapa waktu, dia kembali bersama dengan sejumlah besar semut. Di saat aku melihat kemana mereka menuju, aku tahu bahwa semut yang tadi telah mengajak mereka semua untuk membantunya mengangkat apa yang tidak mampu dia angkat. Akupun ingin hiburan sedikit, kuambil kaki belalang tersebut, lalu kusembunyikan. Maka dia dan semut-semut lain yang bersamanya mencari kaki tersebut, mereka mencarinya kesana kemari tanpa ada hasil, hingga mereka putus asa akan keberadaannya, lalu merekapun pergi meninggalkan tempat tersebut.

Setelah itu, semut yang pertama datang kembali sendirian menuju tempat tadi. Sebelum dia sampai pada tempat tadi, kukembalikan kaki belalang di hadapannya. Maka mulailah dia mengitari dan melihat di sekelilingnya. Lalu dia berusaha untuk menyeretnya lagi, berusaha dan berusaha, hingga dia merasa lemah.

Kemudian dia pergi meninggalkan tempat itu sekali lagi. Akupun yakin bahwa dia pergi untuk memanggil kabilah semutnya guna membantunya untuk mengangkat kaki belalang yang ditemukannya tersebut. Setelah itu, datanglah sekumpulan semut bersama semut tadi, dan kukira itu adalah kelompok semut yang sama seperti tadi!!

Mereka pun datang, dan saat aku melihat mereka berjalan di belakang semut pertama menuju tempat tadi, akupun banyak tertawa, lalu kuambil kaki belalang dan kusembunyikan dari mereka sekali lagi. Merekapun mencari kesana kemari, mereka mencari dengan penuh keikhlasan. Demikian pula semut tadi mencari dengan sepenuh semangat dan keyakinannya, berputar kesana kemari, melihat ke kanan dan ke kiri, agar melihat sesuatu, akan tetapi tidak ada sesuatupun.

Pada saat seperti ini, terjadilah sesuatu yang aneh. Sekumpulan semut itu berkumpul bersama yang lain setelah mereka bosan mencari, dan diantara mereka terdapat semut yang pertama. Kemudian tiba-tiba mereka menyerangnya, lalu memotong-motongnya secara ganas di hadapanku. Dan demi Allah, aku melihat kepada mereka, sementara aku ada pada keterkejutan yang besar. Apa yang terjadi membuatku takut... mereka membunuhnya... mereka memotong-motongnya di hadapanku. Astaghfirullah!

Ya, mereka memotong-motongnya di hadapanku... dia terbunuh karena aku... mereka membunuhnya karena mereka menyangka bahwa dia telah berdusta kepada mereka!!!
SubhanAllah, hingga bangsa semut memandang dusta sebagai aib, dan kekurangan, bahkan dosa besar yang pelakunya dihukum bunuh!!
Semut menganggap dusta adalah sebuah kejahatan, dan memberikan hukuman atasnya!!
Maka bagaimana jika dusta itu membawa keburukan, atau keragu-raguan yang di belakangnya akan timbul fitnah, peperangan, dan kehancuran rumah tangga?!
Maka dimanakah orang yang bisa mengambil pelajaran dari semut kecil ini? SubhanakAllah Ahsanul Kholiqin.
(AR)*
--------------------------------------------------------------------------------------------
Diambil sesuai aslinya, dengan beberapa perbaikan grammar, dari:
Majalah Qiblati, Edisi 08, Tahun IV, Mei 2009.

Friday, May 8, 2009

Mencontek

Seperti biasa, setiap malam anak saya (sebut saja Ham) belajar dengan ditemani Mamanya. Model yang diterapkan oleh Mamanya adalah dengan tebak-tebakan. Tebak-tebakan ini dilakukan setelah sebelumnya Ham diberi kesempatan untuk membaca buku. Namun ada yang janggal beberapa malam terakhir ini. Ham selalu duduk manis di lantai yang sama. Dan Ham selalu menjawab dengan tepat meskipun untuk beberapa pertanyaan dia berpikir beberapa saat sambil menunduk.

Ini hal yang aneh. Biasanya Ham selalu mendongakkan kepala saat berpikir. Usut punya usut, ternyata Ham sudah menuliskan materi yang akan ditanyakan di lantai tempat dia duduk. Jadi, saat Mamanya memberi kesempatan membaca, yang biasanya ditinggal sendirian, Ham mencatat hal-hal penting di lantai.

A'udzubillah min dzaalik. Tentu saja kami terkejut. Kami tidak pernah mengajarkan dia untuk melakukan seperti itu. Akhirnya, dengan sangat terpaksa kami bertanya ke Ham apakah dia melakukan hal yang sama saat ulangan. Alhamdulillah, dia belum pernah melakukan.

Tetapi, tanpa kami tanya, akhirnya dia cerita bahwa ada seorang temannya yang melakukan itu saat ulangan. Anak itu, sebut saja S, adalah anak pindahan di kelas 2a, kelasnya Ham. Dan memang semester ganjil kemarin, S mendapat ranking yang tinggi. Padahal dulu waktu kelas 1, anak ini termasuk anak yang tidak diterima di SD itu. Lebih mengejutkan lagi, Ham bercerita bahwa Ibu Guru tahu bahwa S mencontek tetapi membiarkan saja.

Kalau Ham berkata benar, tentu saja sangat disayangkan. Mereka baru anak kelas 2 SD. Tetapi mereka sudah diajari bahwa hasil lebih penting daripada proses. Nilai bagus lebih diutamakan daripada penguasaan pelajaran.

Dengan halus, akhirnya kami berkata ke Ham, bahwa kami tidak setuju Ham meniru anak itu, baik saat ulangan maupun saat belajar dengan Mama. Kami katakan juga bahwa kami lebih suka Ham mendapat nilai yang wajar dan ranking yang biasa asalkan dikerjakan sesuai kemampuan sendiri, daripada mendapat nilai yang bagus dan rangking yang tinggi tetapi dengan mencontek.

Semoga saja Ham memahami penjelasan kami.
Semoga Allah SWT membantu anak-anak kami dan anak-anak kita untuk selalu berjalan di atas kebenaran. Amien.....

Wednesday, April 29, 2009

Hipnotis dan Sihir

Kisah ini adalah kisah yang nyata, dan saya memperolehnya dari sumbernya secara langsung. Jika kisah ini saya tulis di blog, tidak dimaksudkan untuk membikin takut pengunjung blog. Akan tetapi, diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan terhadap kriminalitas yang memang banyak terjadi di lingkungan kita.

Kisah kita kali ini menimpa seorang rekan kerja, sebut saja Pak Yon. Saat itu, Pak Yon sedang menuju ke kampus dari rumah dengan mengendarai mobil dan melewati Jalan Kaliurang. Beberapa kilometer sebelum sampai di pintu gerbang kampus, mobil Pak Yon menyenggol (atau sengaja disenggol) kendaraan lain. Pak Yon tetap melaju setelah meyakinkan lewat kaca spion bahwa kendaraan yang tersenggol tersebut tidak mengalami masalah.

Namun, beberapa saat kemudian ada mobil yang menyusul dan berusaha menghentikan mobil Pak Yon dengan isyarat. Karena merasa sebelumnya ada masalah, Pak Yon bersedia menghentikan mobilnya. Dan memang benar, pengendara mobil tersebut ingin membicarakan masalah tersenggolnya kendaraan tadi.

Saat itulah, pengendara mobil menepuk pundak Pak Yon. Setelah tepukan itu, Pak Yon seperti tidak bisa berpikir logis lagi. Menurut pengakuan Pak Yon, mulut beliau seperti terkunci dan sulit untuk berbicara. Akibatnya, istilah orang Jawa mengatakan Pak Yon seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Yang artinya adalah menurut apa yang diperintahkan. Dalam sekejap, semua uang di saku, HP, dan ATM (termasuk pin) Pak Yon diserahkan dengan sukarela ke pengendara mobil itu. Saat Pak Yon sudah tersadar, uang di tabungan sudah habis.

Cara menghilangkan kesadaran itulah yang disebut sebagai hipnotis. Karena korban kehilangan kesadaran, pasti akan mau melakukan apapun yang diperintahkan oleh orang yang menghipnotis. Selain kisah rekan saya di atas, kriminalitas dengan hipnotis sudah sering terjadi dan diberitakan di media masa. Tetapi baru kali ini saya menjumpai korbannya secara langsung. Saat saya pergi ke Jakarta beberapa hari lalu, di sebuah stasiun terpampang spanduk besar bertuliskan tentang peringatan kepada penumpang kereta agar hati-hati terhadap kriminalitas dengan hipnotis. Ini menunjukkan bahwa kejahatan ini memang sudah sering terjadi. Dan saya tidak menyangka sekarang kejahatan itu sudah demikian dekat dengan rumah dan tempat kerja saya.

Selang beberapa hari, pundak isteri saya ditepuk seorang ibu saat berada di angkutan umum. Bukanlah sebuah kebetulan jika ibu ini sudah melakukan hal yang sama ke isteri saya untuk yang kedua kalinya. Tepukan pertama dari ibu ini terjadi beberapa bulan yang lalu. Kejadian setelah kedua tepukan itu juga sama, yaitu ibu itu meminta sejumlah uang. Bedanya, mungkin ibu ini tidak ingat kalau beliau pernah menepuk isteri saya karena tidak mengenali isteri saya yang penampilannya sudah berbeda dibandingkan dengan tepukan yang pertama.

Tentu saja kami curiga bahwa ini termasuk usaha untuk menghipnotis karena 3 alasan. Pertama, buat orang Yogya mengajak seseorang berbicara dengan menepuk pundak adalah tidak biasa, terutama buat orang yang belum dikenal. Tepukan ini hanya diperlukan jika ada suara bising di sekitar, kalau tidak, orang Yogya akan bilang "Nuwun sewu" untuk memulai berbicara. Dan isteri saya yakin bahwa suasana saat itu tidak bising, dan berbicara langsung lebih mudah dilakukan karena ibu itu duduk di sebelah isteri saya. Kedua, tepukan yang diberikan cukup keras. Kalau tepukan untuk memulai berbicara dilakukan, biasanya hanya berupa tepukan pelan (atau lebih tepatnya menyentuh). Ketiga, kejadiannya terulang 2 kali oleh orang yang sama. Kejadiannya berikutnya pun juga sama, yaitu meminta uang.

Kalau misalnya dugaan kami benar, alhamdulillah, isteri saya tidak terhipnotis. Kemungkinan karena isteri saya tidak pernah menatap mata ibu itu. Seperti yang pernah saya baca, agar kita terhindar dari hipnotis, harus menghindari menatap mata. Karena hipnotis disalurkan lewat mata. Selain itu, saat ditepuk, isteri saya sedang disibukkan dengan dzikrullah. Dzikir memang bisa menghindarkan seseorang dari bahaya.

Hipnotis mungkin bisa dikategorikan sebagai sihir. Bagi umat Islam, sudah cukup jelas bahwa sihir adalah haram. Jangankan menggunakan sihir, membalas sihir dengan sihir juga diharamkan. Apapun tujuan penggunaan sihir, tidak menyebabkan sihir ini menjadi halal, meskipun dengan dalih untuk kebaikan.

Sudah sepantasnya kita tidak mempelajari dan menggunakan sihir. Selain memang berdosa besar (karena haram), sangat mungkin dosanya tidak bisa diampuni. Kalau kita berdosa hanya dengan Allah SWT, insya Allah, Allah SWT akan memberi ampunan saat kita bertobat. Tetapi jika kita berdosa dengan manusia, Allah SWT tidak akan mengampuni sebelum manusia itu mengampuni kita. Padahal dosa sihir itu terkait dengan manusia karena sudah didzholimi. Dan saya sangat yakin, sulit buat orang yang menggunakan sihir akan meminta ampun kepada orang yang pernah disihir. Jika ini terjadi, maka sangat mungkin Allah SWT tidak akan mengampuni.

Monday, March 2, 2009

Filosofi dari Ahli Mesin Bubut

Setelah beberapa bulan, seperti biasa motor saya harus menjalani "general check-up", terutama bagian modifikasi roda 3. Bagian modifikasi memang bukan hasil penelitian, sehingga menjadi wajar jika sering timbul masalah. Hal ini berbeda dengan bagian motor-motor yang lain, yang dibuat melalui proses perancangan yang teliti, sehingga hasilnya akan lebih bagus.

Di tempat "general check-up" (sebuah bengkel bubut), alhamdulillah, motor saya ditangani oleh pemilik bengkel sekaligus orang yang paling ahli di bengkel tersebut. Beliau juga ahli menggunakan mesin bubut. "Saya tidak menyangka loh, pak, kalau bagian as ini bisa retak. Padahal saya memilihkan bahan yang paling kuat," begitu Pak Har menyampaikan hasil pertama pengecekan.

Tidak disangka, kalimat pembuka tersebut menjadi awal pembicaraan selanjutnya yang cenderung serius di antara kami. Tentunya sambil terus melakukan pengecekan dan perbaikan jika diperlukan. Akan saya sampaikan satu tema pembicaraan yang menurut saya paling menarik.

Memang dalam membuat modifikasi motor roda 3 ini, Pak Har sudah memperhitungkan berbagai hal, namun masih saja ada kemungkinan salah perhitungan. Beliau sudah terbiasa melakukan perhitungan dari berbagai hal karena sudah terbiasa mengoperasikan mesin bubut. Dari mesin bubut inilah, pembicaraan kami menjadi berkembang.

Dengan mesin bubut itu, beliau sudah berhasil membuat berbagai alat. Masih dari beliau, dalam pembuatan suatu alat, banyak settingan yang perlu diperhatikan. Settingan ini bisa dikatakan dari berbagai sisi dan arah: atas, bawah, depan, belakang, samping, kemiringan pisau, dll, sampai saya menjadi tidak paham. Salah sedikit dari satu sisi/arah, hasilnya bisa dipastikan tidak akan sesuai dengan harapan. Kalau semua settingan ini benar, barulah hasilnya akan sesuai.

Akhirnya beliau menganalogikan dengan kehidupan ini. Untuk menjalani hidup ini, setiap orang harus memperhatikan dari berbagai sisi. Setiap sisi ini harus di-setting sehingga manusia bisa menjalani hidup dengan benar. Bila ada satu sisi yang terlupakan, tujuan akhir manusia tentulah tidak akan tercapai secara sempurna. Hanya dengan settingan yang benarlah manusia bisa mencapai tujuan akhir hidup ini.

Betul juga apa yang disampaikan oleh Pak Har. Terbayang di pikiran saya, apa yang terjadi seandainya mesin bubut itu tidak di-setting sama sekali. Tentunya besi yang dibubut itu akan tetap seperti semula, tidak menjadi alat, atau bahkan hancur tidak terbentuk.

Tanpa saya sadari, filosofi Pak Har ini terbawa ke rumah dan ke tempat tidur. Pikiran saya pun bertambah kacau hingga muncullah pikiran-pikiran ini:
  1. Agar settingan tidak salah, tentunya pembuat mesin bubut itu sudah menyertakan manual penggunaan. Tanpa manual ini, Pak Har tidak akan bisa mengoperasikan mesin bubut tersebut. Kalau tidak bisa mengoperasikan, Pak Har pasti hanya bisa mencoba-coba, yang hasilnya bisa benar dan bisa salah. Padahal dengan cara seperti itu, kemungkinan salah akan jauh lebih besar dibandingkan kemungkinan benar. Padahal juga, kalau salah, bisa timbul kemungkinan yang lain yaitu mesin bubut akan jadi rusak, tidak bisa dipakai, dan mesin itu menjadi sia-sia.
  2. Meskipun ada manual, pengoperasian tetap memerlukan latihan. Tanpa latihan yang berulang-ulang, tidak mungkin Pak Har bisa mengoperasikan mesin bubut itu dengan terampil. Apa yang terjadi jika malas latihan? Apa pula yang terjadi jika tidak pernah latihan dan hanya memajang manual ini di lemari atau sebagai hiasan?
  3. Seperti mesin-mesin lain, jika ada salah satu bagian yang rusak maka harus segera diperbaiki. Kalau tidak, kemungkinan besar akan merusak bagian yang lain.
  4. Kesalahan pengoperasian mesin bubut ini bisa berbahaya, tidak hanya buat yang mengoperasikan tetapi buat orang-orang sekitarnya bahkan buat alam lingkungan di sekitarnya.
Bagaimana dengan hidup kita?

Friday, October 31, 2008

Jangan Segan untuk Meminta Hak

Alkisah, hari ini (hari Jum'at) saya mengambil passport saya beserta keluarga. Ini sesuai dengan janji yang diberikan oleh pihak Kantor Imigrasi saat kami melakukan wawancara pada hari Rabu (2 hari yang lalu).

Di hari Rabu lalu, selain wawancara, kami juga difoto. Selain itu kami juga harus membayar biaya penerbitan passport dll, yang terdiri dari 3 komponen biaya, yaitu:
  • Buku passport : Rp. 255.000
  • Foto dan sidik jari : Rp. 15.000
  • Cover passport : Rp. 5.000 
Total biaya yang harus saya bayar per orang adalah Rp. 275.000. Seperti biasa, dengan iseng saya mengamati komponen biaya yang tertera di 3 lembar kuitansi (1 kuitansi untuk 1 komponen biaya) Perhatian saya tertuju pada Cover passport. Ternyata cover passport ini dibuat oleh Koperasi Karyawan kantor imigrasi tersebut. Setelah saya ingat-ingat, saya tahu yang dimaksud dengan cover ini.

Kembali ke hari ini, saya mengambil passport kami. Seorang petugas menyerahkan passport tersebut dan meminta saya untuk memfoto copy serta menyerahkan foto copy tersebut ke beliau. Setelah saya serahkan, petugas tersebut mengucapkan terima kasih, dan urusan penerbitan passport sudah selesai.

Saat mau beranjak, saya teringat tentang cover passport. Mungkin karena hari Rabu saya mengamati biaya cover, saya jadi teringat. Apalagi memang kenyataannya passport yang saya terima belum diberi cover. Saya kembali lagi dan menanyakan masalah cover. Petugas tersebut segera mencarikan cover yang saya tanyakan. Akhirnya lega juga, karena dengan cover ini passport kami bisa lebih terlindungi.

Ternyata memang orang Indonesia itu benar-benar pelupa. Cover yang tergeletak setumpuk di depan petugas itu saja, bisa terlupa. Apalagi kalau letaknya jauh dari depan mata. Intinya, jangan segan untuk menanyakan hak kita, karena siapa tahu petugasnya lupa. Tentu saja dengan cara yang baik dan sopan. Insya Allah, mereka akan melayani dengan baik.

Friday, September 12, 2008

PSIKOPAT

Setelah lama absen, alhamdulillah akhirnya punya kesempatan menulis juga. Namun kali ini juga belum bisa membuat tulisan sendiri, melainkan merangkum dari tulisan di majalah.

Saat ini menjadi pembahasan banyak orang tentang sosok yang telah melakukan pembunuhan berantai, yang jumlahnya tidak tanggung-tanggung. Saya tidak perlu menyebutkan nama sosok tersebut, dan saya kira semua pembaca sudah mengenalnya karena sering di-expose oleh media massa. Sosok pembunuh seperti ini lebih dikenal sebagai pembunuh berdarah dingin karena dia melakukan pembunuhan dengan emosi yang dingin. Sangat mencengangkan, saat ditemukan fakta bahwa sosok ini bukanlah orang yang punya sifat terlihat seperti kriminal (bertampang kriminal). Bahkan sosok dia lebih dikenal sebagai orang yang lemah lembut. Di kampungnya dia juga dikenal sebagai orang yang taat beragama dan guru ngaji. Tetapi ini tidak aneh di dunia psikologi, yang menyebutnya sebagai kelainan jiwa, yang diberi nama psikopat.

Meskipun tergolong sebagai penyakit jiwa, namun psikopat tidak sama dengan penyakit jiwa psikosis, dimana penderitanya tidak sadar dengan apa yang telah dilakukan. Seorang psikopat sadar sepenuhnya dengan apa yang dia lakukan. Psikopat merupakan bentuk gangguan kepribadian tipe antisosial. Pengidap psikopat sering disebut sebagai sosiopat, karena perilakunya yang antisosial dan merugikan orang-orang terdekatnya.

Yang terbayang pertama kali di benak saya, seorang psikopat adalah seorang pembunuh berdarah dingin seperti tercermin pada sosok yang saya ceritakan di muka. Tetapi ternyata tidak demikian. Sebagian psikopat memang dikenal sebagai pembunuh berdarah dingin. Sebagian lagi dikenal sebagai perilaku kriminal lain, seperti pemerkosa dan koruptor. Namun, psikopat ternyata tidak hanya pelaku kriminal seperti itu. Bahkan itu hanya 15% - 20% dari total psikopat. Sisanya, tidak dikenali karena tidak melakukan tindakan kriminal meskipun banyak tindakannya yang merugikan orang lain.

Dari hasil penelitian Prof. Robert Hare, seorang psikopat selalu membuat kamuflase yang rumit, pandai memutarbalikkan fakta, penebar fitnah dan kebohongan untuk mendapatkan kepuasan dan keuntungan dirinya sendiri. Seorang psikopat akan dikenal sebagai sosok pribadi yang berpenampilan sempurna, pandai bertutur kata, mempunyai daya tarik yang mempesona, mampu menguasai berbagai ilmu pengetahuan dan tampak sukses dalam karier. Psikopat yang kharismatik dan well-educated ini paling sulit dideteksi.

Psikopat sejati menghancurkan semangat, karier dan reputasi seseorang serta mampu membuat korbannya merasa bersalah terhadap dirinya sendiri dan sebaliknya malah mengasihani sang psikopat.

Psikopat punya ciri-ciri umum. Namun, ciri-ciri ini tidak bisa digunakan untuk mengecap seseorang tergolong psikopat atau tidak. Karena untuk menetapkan seseorang adalah psikopat, dibutuhkan diagnosis yang kemampuannya sendiri perlu pelatihan ketat dan menggunakan pedoman penilaian formal. Selain itu juga membutuhkan wawancara yang mendalam. Berikut ini adalah ciri-ciri umum seorang psikopat:
  1. Sering berbohong, fasih, dan dangkal. Psikopat seringkali pandai melucu dan pintar bicara, secara khas berusaha tampil dengan pengetahuan di berbagai bidang. Mereka sering mengarang cerita yang membuatnya positif, dan bila ketahuan berbohong mereka tak peduli dan akan menutupinya dengan mengarang kebohongan lainnya dan mengolahnya seakan-akan itu fakta.
  2. Egosentris dan menganggap dirinya hebat.
  3. Tidak punya rasa sesal dan bersalah. Meski kadang psikopat mengakui perbuatannya, ia sangat meremehkan atau menyangkal akibat tindakannya dan tidak punya alasan untuk peduli.
  4. Senang melakukan pelanggaran dan punya masalah perilaku di masa kecil.
  5. Sikap antisosial di usia dewasa.
  6. Kurang empati. Bagi psikopat, tidak ada bedanya antara memotong kepala ayam dan kepala orang.
  7. Psikopat juga teguh dalam bertindak agresif, menantang nyali dan perkelahian, jam tidur larut dan sering keluar rumah.
  8. Impulsif dan sulit mengendalikan diri. Untuk psikopat, tidak ada waktu untuk menimbang baik-buruknya tindakan yang akan mereka lakukan dan mereka tidak peduli pada apa yang telah diperbuatnya atau memikirkan masa depan. Pengidap juga mudah terpicu amarahnya akan hal-hal kecil, mudah bereaksi terhadap kekecewaan, kegagalan, kritik, dan mudah menyerang orang hanya karena hal sepele.
  9. Tidak mampu bertanggung jawab dan melakukan hal-hal demi kesenangan belaka.
  10. Manipulatif dan curang. Psikopat juga sering menunjukkan emosi dramatis walaupun sebenarnya mereka tidak sungguh-sungguh. Mereka juga tidak memiliki respon fisiologis yang secara normal diasosiasikan dengan rasa takut seperti tangan berkeringat, jantung berdebar, mulut kering, tegang dan gemetar. Karena itu, psikopat seringkali disebut dengan istilah "dingin".
  11. Hidup sebagai parasit karena memanfaatkan orang lain untuk kesenangan dan kepuasan dirinya.
Perilaku psikopatik biasanya muncul dan berkembang pada masa dewasa, mencapai puncak di usia 40-an, mengalami fase plateau sekitar usia 50-an, lantas perlahan akan memudar.

Sekali lagi, ciri-ciri umum itu bukan digunakan untuk menilai psikopat seseorang. Tetapi bisa digunakan untuk menilai diri kita sendiri maupun keluarga kita sehingga bisa dideteksi secara dini, yang selanjutnya bisa dilakukan proses pengobatan sehingga dapat disembuhkan, Insya Allah.

Sumber : Majalah Nikah, Volume 7, Tahun ke-6.
Salah sumber. Seharusnya: Majalah Nikah, Volume 7, Nomor 6.