Sunday, April 1, 2012

Monoteisme dan Evolusi (2): Bukti-Bukti Monoteisme dan Perubahan Menjadi Politeisme

Pada bagian 2 ini, saya tambahkan subjudul untuk mempermudah pemahaman. Subjudul ini tidak ada di makalah aslinya.


Monoteisme Bangsa Primitif
Sehingga, kita menemukan keyakinan terhadap satu Tuhan yang Maha Besar diantara semua suku-suku yang disebut primitif, yang telah ditemukan. Suku Maya di Amerika Tengah meyakini satu Tuhan yang menciptakan segala sesuatu, yang mereka panggil Itzamna [11], Kaum Mende di Sierra Leone, Afrika Barat, meyakini satu Tuhan yang menciptakan alam semesta dan roh-roh, yang mereka panggil Ngewo [12], di Babilon Kuno sesembahan utama penduduk kota itu, Marduk [13], dipandang sebagai Tuhan yang Maha Besar. Di Hinduisme, Brahma adalah satu Tuhan yang absolut, abadi, dan bukan-manusia, yang tidak mempunyai permulaan dan akhir[14].

Di agama Yoruba, yang dianut oleh lebih dari 10 juta orang di Afrika Barat (utamanya Nigeria), terdapat satu Tuhan yang Maha Besar, Olorius/Olodumare (Penguasa langit). Meskipun demikian, agama Yoruba modern dicirikan oleh berbagai bentuk upacara peribadahan Orisha yang mengubah agama ini menjadi lebih dekat ke politeisme.

Dari Monoteisme Menjadi Politeisme
Satu dari ahli-ahli barat pertama yang mengakui pengaruh penting trend dari monoteisme menjadi politeisme ekstrim adalah Stephen Langdon, dari Oxford. Langdon mengambil pandangan bahwa Sumerian adalah peradaban sejarah yang paling tua dan dia mencatat “Dalam pandangan saya sejarah peradaban manusia yang paling tua adalah proses kemunduran secara tajam dari monoteisme ke politeisme ekstrim dan kepercayaan yang tersebar luas tentang roh-roh. Dalam pendirian yang sangat tepat, ini adalah sejarah kejatuhan manusia.”[15]

Edward McCrady, yang menulis tentang keagamaan orang India, mengamati bahwa bahkan Rig Veda (Book 1, p.164) menunjukkan bahwa tuhan-tuhan di masa-masa awal dipandang secara sederhana sebagai perwujudan yang bemacam-macam dari Zat Ketuhanan Yang Maha Tunggal, dia menyatakan bahwa: “Mereka menyebut-Nya dengan Indra, Mythra, Varunna, Agnee – semuanya adalah istilah (sebutan/nama) yang berbeda untuk satu Tuhan Yang Maha Bijaksana.”[16]

Sifat-sifat Tuhan Yang Maha Esa Bangsa Primitif
Ahli sejarah China kadang-kadang membagi periode sejarah kuno ke dalam tiga periode: periode utama, periode menengah, dan periode dekat. Periode pertama kira-kira merentang dari abad ke-21 sampai abad ke-12 sebelum Masehi. Menurut Ron Williams, yang membaca tulisan China, setiap periode memiliki ciri-ciri keagamaan tersendiri, dan periode pertama secara terang adalah monoteistik. Williams juga mencatat bahwa: “Pada periode sejarah China ini, Penguasa yang Besar adalah Tunggal dan tidak dapat dibagi, tidak dapat berubah, tidak ada yang menyamai, mengatur secara absolut dan sendirian di atas segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi. Dia melakukan apa yang Dia kehendaki tanpa ada kekuatan yang dapat menghalanginya, dan kehendak-Nya selalu hak.”[17]

Dalam serial jurnal The Great Ages of Man, satu volumenya diterbitkan berkaitan dengan China kuno, yang ditulis oleh Edward H. Schafer ,yang mencatat: “Satu dari yang paling tua dan pasti paling besar dari tuhan-tuhan adalah Tuhan Langit Ti'en. Pada masa-masa awal Ti'en dipandang sebagai Raja Besar di langit, lebih megah dari segala yang ada di bumi. Selanjutnya kebanyakan memandang Ti'en sebagai sumber energi non-manusia, sumber energi yang menggerakkan dunia.”[18]

Kerja lain yang sangat penting pada monoteisme awal dari orang-orang primitif adalah oleh Wilhelm Schmidt, yang asalnya pekerja produktif di Jerman, diterbitkan pada tahun 1930 dalam terjemahan bahasa Inggris sebagai sebuah volume tunggal. Dalam studinya Schmidt mendapatkan bahwa dia menemukan budaya primitif pada tingkatan budaya yang paling rendah, mempunyai konsep Tuhan yang lebih murni. Dia mencatat bahwa seperti seseorang berkembang dari pemburu saja menjadi pengumpul makanan, dan dari penyimpan makanan menjadi penanam makanan seperti pengembara pastor yang menjaga jemaahnya, menjadi penanam makanan yang menetap pada suatu tempat, dan di atas skala masyarakat semi-urban, seseorang menemukan keyakinan sederhana terhadap Tuhan yang Maha Besar, yang tidak mempunyai isteri dan keluarga. Menurut Schmidt kita menemukan bentuk keyakinan ini antara Pygmies di Afrika tengah, orang Australia-tenggara Aborigin, orang Amerika asli di California-utara-tengah, Algonquians primitif, dan Koryaks serta Ainu pada batas-batas tertentu. Untuk menyimpulkan penemuannya secara ringkas, kata-kata dia sendiri adalah: “Kembali ke masyarakat paling primitif, Pygmies di Afrika atau orang Australia-tengah Aborigin atau orang-Amerika tengah Indian – semua mempunyai satu Tuhan yang Maha Besar yang kepada-Nya-lah mereka membuat persembahan... semua masyarakat ini juga mempunyai tata-cara doa yang pendek...”[19]

Andrew Lang mencatat bahwa "Aborigin Australia mungkin memiliki salah satu kebudayaan yang paling sederhana dari semua masyarakat yang dikenal, tetapi mereka memiliki konsep-konsep keagamaan yang begitu tinggi, yang akan lumrah untuk menjelaskan bahwa konsep itu merupakan akibat dari pengaruh Eropa. "[20] Pada saat penulisan Lang merasa bahwa penjelasan ini dibenarkan karena dalam lingkungannya konsep mereka tentang Tuhan dipandang sebagai yang paling 'berevolusi' dan 'beradab.'

Lang juga menyebutkan bahwa penduduk Kepulauan Andaman, yang dia pandang berada pada tingkat kebudayaan yang sama dengan Aborigin, meyakini satu Tuhan. Mereka menggambarkan Tuhan itu sebagai Zat yang tidak bisa dilihat, abadi, pencipta segala sesuatu (kecuali kejahatan), mengetahui segala yang ada di hati dan pikiran, Zat yang marah terhadap dusta dan perilaku buruk, membantu orang yang dalam kesukaran dan penderitaan. Lebih lanjut, konsep Tuhan mereka adalah bahwa Dia adalah Hakim terhadap jiwa yang telah mati dan pada masa depan Dia akan memimpin pengadilan yang agung.

Informasi yang diberikan ke Lang itu datang dari anggota-anggota yang lebih tua dari masyarakat tersebut, yang tidak mengenal masyarakat lain pada saat itu. Seperti yang Lang katakan, “... pengaruh luar sepertinya telah dikesampingkan lebih dari biasanya (dalam konsep Tuhan mereka).”[21]

Sameul Zwemer berbicara tentang ciri-ciri Bushmen yang monoteistik, seperti kebanyakan orang dari kebudayaan Arctic yang dia pertahankan, yaitu “Terang ... bahkan untuk penelitian yang sambil lalu.”[22] Dalam papernya dia tidak hanya menyampaikan ulang apa yang telah diteliti oleh orang lain, sebut saja hasil penelitian bahwa orang-orang primitif mempunyai pengetahuan tentang satu Tuhan yang Maha Besar, melainkan lebih menyatakan bahwa Tuhan yang Maha Besar, yang mereka kenal, secara inti adalah satu Zat yang sama dengan sifat-sifat yang sama. Canon Titcombe mencatat ketika berbicara tentang Zulus, mengutip seorang mantan bishop dari Natal yang mempunyai pengetahuan tentang Zulus dari tangan pertama ketika mereka masih utuh secara budaya, bahwa mereka tidak mempunyai sesembahan selain mengakui Zat Tunggal yang Maha Besar, yang dikenal sebagai Zat yang Agung, yang Maha Kuasa, yang Pertama, dll.[23] Titcombe juga mencatat konsep satu Tuhan di antara penduduk asli Madagaskar.[24]

Kesimpulan
Semua bukti-bukti ini mengarahkan Paul Radin untuk menyimpulkan, setelah menyebutkan kerja Lang: “wawasan intuisinya telah dikuatkan secara berlimpah”.[25] Tambahan lagi, E.O. James menyimpulkan dalam sebuah paper yang diterbitkan oleh Jurnal of the Royal Anthropological Institute: “Maka, tidak mungkin untuk mempertahankan sebuah evolusi yang unilateral (sepihak dan satu) dalam wawasan dan praktek keagamaan seperti yang disarankan oleh 'Tiga Tingkat' dari Frazer, Tylor dan Comte. Meskipun demikian, baik spekulasi bahwa ide tentang Tuhan tumbuh dalam peribadatan nenek moyang seperti yang disebarkan oleh Herbert Spencer maupun model evolusi Frazer dari politeisme dan animisme ke monoteisme tidak dapat dirujukkan dengan satu Tuhan-kesukuan yang Maha Besar, yang merupakan ciri dari konsep yang primitif tentang Tuhan, yaitu konsep satu-Tuhan yang selalu berulang.”[26]

Proses kemunduran monoteisme dapat dilihat pada Budhisme yang berawal pada abad ke-6 sebagai gerakan pembaruan dalam Hinduisme. Namun masa berikutnya, patung-patung dan gambar-gambar raksasa dalam jumlah besar dari Budha didirikan dan dikelilingi dengan bunga, dupa, dll. Lebih lanjut, pengikut Budhisme menyelenggarakan sejumlah upacara (ritual) kepada patung-patung tersebut, yang mencakup sujud, ruku (ketundukan), dll. Sebagai tambahan, Dalai Lama dari Tibet diibadahi sebagai tuhan yang berwujud manusia (man-god), dengan sujudnya para pengagum terhadapnya. Hal seperti ini juga dapat diamati dalam gerakan Sufi Naqsyabandi dengan pemimpinnya saat ini Naazim Qubrusi, dan juga 'pembuat mukjizat' seperti Sai Bab dan 'Ayatullah' Khomaini. Semua manusia ini diibidahi selain Allah dan menunjukkan proses kemunduran monoteisme menjadi politeisme.

Catatan Kaki:
[11] John Hinnels, Dictionary of Religions (Penguin Books: 1884), p. 93 (Back..)
[12] Ibid, p. 210 (Back..)
[13] Ibid, p. 204 (Back..)
[14] Ibid, p. 68 (Back..)
[15] Stephen H. Langdon, “Mythology of all Races,” in Semitic Mythology Journal (Vol. 5, Archaeological Institute of America: 1931), p. xviii/p.18 (Back..)
[16] Edward McCrady, “Genesis and Pagan Cosmologies,” Trans. Vict. Institute; Vol. 72 (1940), p.55 (Back..)
[17] Ron Williams, “Early Chinese Monotheism,” a thesis paper presented before the Kelvin Institute (Toronto, 1938) (Back..)
[18] Edward H. Schafer, “Ancient China,” in The Great Ages of Man (New York: Time Life, 1967) p. 58 (Back..)
[19] Wilhelm Schmidt, The Origin and Growth of Religion – Facts and Theories, (London: 1931) p. 131, (translated by HJ Rose) (Back..)
[20] Andrew Lang, The Making of Religion (London: Longmans Green, 1909) pp. 175-182, 196 (Back..)
[21] Ibid, p. 196 (Back..)
[22] Samuel Zwemer, “The Origin of Religion – By Evolution or by Revelation,” (Trans. Vict. Institute, Volume 67; 1937) p. 189 (Back..)
[23] J.H. Titcombe, “Prehistoric Monotheism,” (Trans. Vict. Institute, Vol. 8, 1937) p. 145 (Back..)
[24] Ibid, p. 144 (Back..)
[25] Paul Radin, Primitive Men as Philosophers (New York: 1956) p. 346 (Back..)
[26] E.O. James, “Religion and Reality,” in The Journal of the Royal Anthropological Institute (Vol. 79, 1950) p. 28
(Back..)



Makalah asli: Monotheism and Evolution

1 comment:

Trio Adhitya said...

thanks for the information..
pleace, visit back to st3telkom.ac.id