Terima kasih, Sahabat!
Kategori:
Diri sendiri
Semua agama, termasuk agama Islam yang saya anut, mewajibkan pemeluknya untuk berlaku jujur, baik perbuatan maupun perkataan. Namun, ada kalanya kejujuran itu akan menyakitkan hati bagi yang mendengarnya. Hal itu yang harus saya lakukan, yang sedang belajar untuk selalu jujur. Saya lakukan buat seorang Sahabat terbaik. Sebenarnya saya sudah berjanji buatnya untuk tidak pernah menulis tentang dia. Dan kali ini pun lebih banyak tentang saya sendiri, dan saya menggunakan istilah Sahabat untuk merujuk ke dia untuk menyembunyikan identitasnya.
Sungguh, jika ini terjadi pada orang lain, tidak banyak yang bisa melakukannya. Saat itu saya harus bercerita tentang suatu hal yang berkaitan dengan kami berdua. Saya berusaha untuk menjawab dengan jujur setiap pertanyaan yang dia berikan. Walaupun sebenarnya dalam hati, saya tahu pasti bahwa jawaban yang saya berikan akan menyakitkan hatinya. Pikiran saya saat itu justeru lebih baik saya tidak berbohong, karena kalau berbohong justeru akan merusak persahabatan kami. Dan, Insya Allah, saya tidak pernah menginginkan rusaknya persahabatan itu.
Berbeda sekali dengan Sahabatku ini. Awalnya memang dia marah, dan mungkin juga membenciku. Atau bahkan sangat membenciku. Saya hanya bisa terdiam, mencoba memahami perasaannya. Ternyata, tidak butuh berhari-hari untuk menenangkan hatinya. Dia sudah mau lagi berbicara denganku. Dia sangat menghargai kejujuranku, dan dengan jujur pula dia mengakui bahwa dia sakit hati. Saya benar-benar terharu mendengarnya. Kalau bukan karena masih merasa bahwa saya adalah seorang laki-laki, mungkin saya sudah menangis di depannya.
Saya benar-benar kagum dengannya, tidak semua orang bisa melakukan itu. Insya Allah, saya berjanji untuk tidak lupa mendoakannya, semoga Allah SWT telah menyediakan satu tempat untuknya di surga.
Pesan yang ingin saya sampaikan adalah ada kalanya kejujuran itu akan menyakitkan. Sungguh hebat buat orang yang bisa menerimanya.
0 komentar:
Post a Comment